Penulis : Miftahul Alim
(Ketua LTN-NU-BONTANG)

Uang logam atau yang sering di sebut sebagai koin dari dulu sampai sekarang tidak pernah memiliki nilai nominal tinggi. Entah kenapa Bank Indonesia tidak pernah mencetak uang koin dengan nilai tukar yang lebih tinggi. Sampai saat ini pun nilai tertinggal dari uang koin hanya sebatas seribu rupiah. Mungkin karena alasan bentuknya yang kecil, lebih mudah terselip dan hilang. Tapi itu bukanlah hal yang harus kita pusingkan.

Ada sesuatu yang lebih menarik dari sekedar membahas sebuah nominal uang koin. Lazis-NU saat ini memiliki dua program menggunakan koin sebagai simbolnya. Program Umplung (celengan) Lazis-NU dan Koin Muktamar. Kenapa tidak dengan branding lain agar lembaga pengelolah zakat, infaq, dan shodaqah yang dimiliki Nahdlatul Ulama ini cepat meraup uang dengan hasil fantastik ? Seperti menggunakan brand "Siapkan infaq terbaik anda" misalnya. Secara harfiah, brand yang dimiliki orang-orang kebanyakan dalam menstimulus para pensedekah ini memiliki arti, yang terbaik adalah yang terbanyak. Bisa kita tarik simpulan bahwa, para pensedekah dituntut untuk memberikan infaq dengan nominal tinggi. Namun tidak dengan Lazis-NU. Ia lebih memilih koin sebagai filosofi dalam menjaring sedekah dari jamaah.

Kenapa harus koin ? Pada ulasan sederhana ini saya akan mencoba memaparkan beberapa filosofi mendalam yang bisa kita ambil.

Pertama, koin dijadikan sebagai brand. Agar para pensedekah tidak merasa keberatan. Artinya, mereka sedekah tidak karena dibebani. Tapi dengan sukarela. Taraf amal tentu nilai pahalanya lebih tinggi yang dilakukan dengan sukarela dari pada yang dilakukan dengan terpaksa. Bukan nominal yang dijadikan sebagai patokan. Walaupun dalam keadaan tertentu beramal itu harus dimulai dengan rasa teterpaksaan. Tapi hemat saya, NU memiliki cara yang unik. "Jika bisa memulainya dengan tanpa rasa keterpaksaan kenapa harus memaksa ?". Apalah artinya koin. Toh nominal tertinggi saat ini hanya sebatas seribu rupiah. Tentu si pensedekah tidak merasa berat sama sekali.

Kedua, seribu rupiah jika dilihat dari sisi kuantitas tentu bukan nominal yang tinggi. Bahkan sampai saat ini pecahan seribu rupiah menduduki peringkat 5 terendah secara umum jika koin lima puluh rupiah dijadikan sebagai nilai terkecilnya. Dimulai dari yang paling rendah lima puluh rupiah, seratus rupiah, dua ratus rupiah, lima ratus rupiah, dan seribu rupiah. Pecahan seribu rupiah jika dilihat memang kecil, bahkan sangat kecil kalau dilihat dari ukuran sedekah. Namun, ketika ia dikalikan sekian kali. Maka kita akan menjupai nominal yang berbeda. 1000 x 1000 saja sudah mencapai angka satu juta. Kalau dikalikan warga Nahdliyyin se Indonesia ? Katakan yang mau bersedekah sehari seribu ada lima puluh juta orang. Maka 1000 x 50.000.000. Kita akan menjumpai nominal yang fantastik. Sebesar lima puluh miliar. Tanpa merasa berat untuk sedekah, tetapi hasilnya sungguh luar biasa.

Ketiga, uang koin adalah uang yang paling sering kita jumpai di rumah kita. Di pojok-pojok dinding, di slorokan lemari, cela-cela fentilasi dan tempat yang kita anggap sebagai tempat strategis untuk meletakkan uang koin begitu saja. Uang koin juga sering kali kita dapatkan dan kita sering menganggapnya bukan sebagai sesuatu yang berarti. Dapat dari angsulan belanja atau sisa uang jajan dari anak-anak. Andai saja semua warga Nahdliyyin memiliki kesadaran kolektif untuk menyisihkan uang-uang tersebut dalam satu wadah. Maka bisa jadi satu bulan kita akan menjumpai nominal yang lumayan. 50.000, 100.000, atau lebih dari itu.

Tidak perlu menunggu nominal uang koin yang terkumpul memiliki nilai lebih dari 500.000 untuk disedekahkan. Karena pengalaman banyak orang, jika sudah melihat nilai uang yang banyak walaupun dalam bentuk receh, ada sedikit rasa "eman" (sayang) untuk disedekahkan. Jika sekiranya umplung sudah penuh. Maka segera kita storkan.

Keempat, sebanyak-banyaknya jumlah uang. Jika ia kurang seribu saja. Maka nominal penyebutannya akan berbeda. Misal, satu juta. Kurang nilainya seribu saja sudah tidak lagi dihitung satu juta. Melainkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah. Nah, dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa nominal kecil tidak bisa dianggap kecil saat ia digerakkan bersama. Ikan kecil bahkan bisa merobohkan kapal besar jika ia mau bekerja sama.

Namun demikian, ketika kita ingin bersedakah tidak juga harus melulu menggunakan uang koin. Analisa di atas bisa juga sebagai analogi. Jika kita bergerak bersama walaupun dimulai dengan angka yang kecil bisa menghasilkan sesuatu yang besar, apa lagi ketika kita bersedekah dengan nominal yang lebih besar, tentu hasilnya juga akan lebih besar dan memiliki asas manfaat yang lebih lagi.

Mari kita sukseskan program Koin yang diinisiasi oleh Lazis-NU. tentu hal ini harus dimulai dari lingkup terkecil. Yaitu keluarga kita. Sisipkan seribu sehari saja untuk menuju kemandirian rumah besar kita Nahdlatul Ulama. Dari riya' kecil yang dimulai dari keluarga kita. Kita akan mampu untuk menciptakan gelombang besar untuk kemajuan dan perubahan besar di perahu megah yang bernama Nahdlatul Ulama.

Kekuatan dari koin


Penulis : Miftahul Alim
(Ketua LTN-NU-BONTANG)

Uang logam atau yang sering di sebut sebagai koin dari dulu sampai sekarang tidak pernah memiliki nilai nominal tinggi. Entah kenapa Bank Indonesia tidak pernah mencetak uang koin dengan nilai tukar yang lebih tinggi. Sampai saat ini pun nilai tertinggal dari uang koin hanya sebatas seribu rupiah. Mungkin karena alasan bentuknya yang kecil, lebih mudah terselip dan hilang. Tapi itu bukanlah hal yang harus kita pusingkan.

Ada sesuatu yang lebih menarik dari sekedar membahas sebuah nominal uang koin. Lazis-NU saat ini memiliki dua program menggunakan koin sebagai simbolnya. Program Umplung (celengan) Lazis-NU dan Koin Muktamar. Kenapa tidak dengan branding lain agar lembaga pengelolah zakat, infaq, dan shodaqah yang dimiliki Nahdlatul Ulama ini cepat meraup uang dengan hasil fantastik ? Seperti menggunakan brand "Siapkan infaq terbaik anda" misalnya. Secara harfiah, brand yang dimiliki orang-orang kebanyakan dalam menstimulus para pensedekah ini memiliki arti, yang terbaik adalah yang terbanyak. Bisa kita tarik simpulan bahwa, para pensedekah dituntut untuk memberikan infaq dengan nominal tinggi. Namun tidak dengan Lazis-NU. Ia lebih memilih koin sebagai filosofi dalam menjaring sedekah dari jamaah.

Kenapa harus koin ? Pada ulasan sederhana ini saya akan mencoba memaparkan beberapa filosofi mendalam yang bisa kita ambil.

Pertama, koin dijadikan sebagai brand. Agar para pensedekah tidak merasa keberatan. Artinya, mereka sedekah tidak karena dibebani. Tapi dengan sukarela. Taraf amal tentu nilai pahalanya lebih tinggi yang dilakukan dengan sukarela dari pada yang dilakukan dengan terpaksa. Bukan nominal yang dijadikan sebagai patokan. Walaupun dalam keadaan tertentu beramal itu harus dimulai dengan rasa teterpaksaan. Tapi hemat saya, NU memiliki cara yang unik. "Jika bisa memulainya dengan tanpa rasa keterpaksaan kenapa harus memaksa ?". Apalah artinya koin. Toh nominal tertinggi saat ini hanya sebatas seribu rupiah. Tentu si pensedekah tidak merasa berat sama sekali.

Kedua, seribu rupiah jika dilihat dari sisi kuantitas tentu bukan nominal yang tinggi. Bahkan sampai saat ini pecahan seribu rupiah menduduki peringkat 5 terendah secara umum jika koin lima puluh rupiah dijadikan sebagai nilai terkecilnya. Dimulai dari yang paling rendah lima puluh rupiah, seratus rupiah, dua ratus rupiah, lima ratus rupiah, dan seribu rupiah. Pecahan seribu rupiah jika dilihat memang kecil, bahkan sangat kecil kalau dilihat dari ukuran sedekah. Namun, ketika ia dikalikan sekian kali. Maka kita akan menjupai nominal yang berbeda. 1000 x 1000 saja sudah mencapai angka satu juta. Kalau dikalikan warga Nahdliyyin se Indonesia ? Katakan yang mau bersedekah sehari seribu ada lima puluh juta orang. Maka 1000 x 50.000.000. Kita akan menjumpai nominal yang fantastik. Sebesar lima puluh miliar. Tanpa merasa berat untuk sedekah, tetapi hasilnya sungguh luar biasa.

Ketiga, uang koin adalah uang yang paling sering kita jumpai di rumah kita. Di pojok-pojok dinding, di slorokan lemari, cela-cela fentilasi dan tempat yang kita anggap sebagai tempat strategis untuk meletakkan uang koin begitu saja. Uang koin juga sering kali kita dapatkan dan kita sering menganggapnya bukan sebagai sesuatu yang berarti. Dapat dari angsulan belanja atau sisa uang jajan dari anak-anak. Andai saja semua warga Nahdliyyin memiliki kesadaran kolektif untuk menyisihkan uang-uang tersebut dalam satu wadah. Maka bisa jadi satu bulan kita akan menjumpai nominal yang lumayan. 50.000, 100.000, atau lebih dari itu.

Tidak perlu menunggu nominal uang koin yang terkumpul memiliki nilai lebih dari 500.000 untuk disedekahkan. Karena pengalaman banyak orang, jika sudah melihat nilai uang yang banyak walaupun dalam bentuk receh, ada sedikit rasa "eman" (sayang) untuk disedekahkan. Jika sekiranya umplung sudah penuh. Maka segera kita storkan.

Keempat, sebanyak-banyaknya jumlah uang. Jika ia kurang seribu saja. Maka nominal penyebutannya akan berbeda. Misal, satu juta. Kurang nilainya seribu saja sudah tidak lagi dihitung satu juta. Melainkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah. Nah, dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa nominal kecil tidak bisa dianggap kecil saat ia digerakkan bersama. Ikan kecil bahkan bisa merobohkan kapal besar jika ia mau bekerja sama.

Namun demikian, ketika kita ingin bersedakah tidak juga harus melulu menggunakan uang koin. Analisa di atas bisa juga sebagai analogi. Jika kita bergerak bersama walaupun dimulai dengan angka yang kecil bisa menghasilkan sesuatu yang besar, apa lagi ketika kita bersedekah dengan nominal yang lebih besar, tentu hasilnya juga akan lebih besar dan memiliki asas manfaat yang lebih lagi.

Mari kita sukseskan program Koin yang diinisiasi oleh Lazis-NU. tentu hal ini harus dimulai dari lingkup terkecil. Yaitu keluarga kita. Sisipkan seribu sehari saja untuk menuju kemandirian rumah besar kita Nahdlatul Ulama. Dari riya' kecil yang dimulai dari keluarga kita. Kita akan mampu untuk menciptakan gelombang besar untuk kemajuan dan perubahan besar di perahu megah yang bernama Nahdlatul Ulama.

Tidak ada komentar