NB:
Jika ada saran atau keluhan mohon menghubungi Pengurus LDNU di bawah ini
1. Ahmad Fauzi Asfar, S.Pd    0853 9221 9599
2. Yusuf Musawwi, S.Pd.I       0813 4648 4839
3. Muhammad Ilham H.          0823 5268 9060

Jadwal Khutbah Jum'at, 3 Juli 2020


Oleh: Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

Banser jadi bintang sejak dulu kala. Sebelum HTI berdiri, Banser sudah mencatat prestasi sebagai penjaga ulama, umat dan negara yang terpercaya. Kesetiaan Banser kepada ulama, umat dan negara sudah teruji dan terbukti meskipun buku-buku sejarah tidak mencatatnya dengan rapi. Sebenarnya diakui atau tidak, kita butuh Banser.

Saya sendiri baru sadar akan Banser. Waktu masih kecil di kampung saya, saya tahunya Banser sering latihan baris-bebaris di depan rumah setiap menjelang 17 Agustus. Tetangga saya ketua GP Ansor-Banser. Mereka latihan dalam rangka mengikuti pawai. Seiring perjalanan waktu saya sedikit paham apa itu Banser. Banser itu hebat. Kadang oknumnya berulah itu wajar-wajar saja.

Kontras dengan Banser, HTI diciptakan memang untuk merongrong negara. Di negeri Islam dari Maroko sampai Merauke, Hizbut Tahrir ditakdirkan jadi pemberontak. Di Indonesia, Hizbut Tahrir terhitung lebih beruntung dibandingkan rekan-rekan mereka di negara lain. Di Irak dan Libya anggota Hizbut Tahrir dihukum gantung. Di Suriah diberodong senjata. Di Arab Saudi dan Yordania jadi pesakitan. Di Turki dan Pakistan, dipenjara. Di Uzbekistan, Tajikistan dan Turkmenista, anggota Hizbut Tahrir dibunuh penguasa.

Salahkah para penguasa itu? Tidak ada yang salah sebab kegiatan politik Hizbut Tahrir berbahaya bagi keselamatan bangsa dan negara. Entah fiqih siyasah apa yang dikaji Hizbut Tahrir, yang pasti praktik menghalalkan segala cara terjadi di setiap negeri tempat Hizbut Tahrir melakukan gerakannya. Memfitnah, membuat makar dan mengadu domba sesama umat dan ormas Islam, lumrah dilakukan Hizbut Tahrir, termasuk HTI.

Insiden bakar bendera HTI 2 hari yang lalu di Garut jadi bahan bakar HTI untuk menyerang NU, Ansor dan Banser. Dengan kepiawaiannya bermain opini di media sosial, HTI berhasil memprovokasi umat dan ormas Islam. HTI ingin memukul NU, Ansor dan Banser menggunakan tangan pihak ketiga. Sungguh besar dosa HTI yang menyulut permusuhan umat Muhammad Saw.

Kita harus menoleh ke belakang. Melihat sejenak sejarah kaum umat Islam di masa Khulafaur Rasyidin. Krisis, kisruh dan konflik politik umat telah diperingatkan oleh Baginda Nabi Saw. Mari kita ambil hikmahnya supaya terhindar dari malapetaka yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Sejarah umat mungkin bercerita lain andaikan tidak ada penyusupan dan provokasi kaum Khawarij di barisan kaum muslimin. Persoalan penanganan terhadap pembunuh Khalifah Utsman mencapai titik temu setelah Khalifah Ali mengutus Al Miqdad bin Al Aswad dan Al Qa’qa bin Amr untuk berunding dengan Thalhah dan Az Zubair. Mereka semua sepakat untuk tidak berperang.

Kemudian kedua belah pihak menjelaskan sudut pandang masing-masing perihal qishash terhadap pelaku pembunuhan Utsman. Thalhah dan Az Zubair berpendapat bahwa tidak boleh membiarkan pembunuh Utsman begitu saja, sedangkan pihak Ali berpendapat bawa menyelidiki siapa pembunuh Utsman untuk saat sekarang bukan hal paling mendesak. Namun, hal ini bisa ditunda sampai keadaan stabil. Jadi, mereka sepakat untuk mengqishash para pembunuh Utsman. Adapun yang mereka perselisihkan adalah waktu untuk merealisasikan hal tersebut.

Setelah kesepakatan itu, dua pasukan pun bisa tidur dengan tenang, sedangkan para pengikut Abdullah bin Saba – mereka para pembunuh Utsman – terjaga dan melewati malam yang buruk, karena akhirnya kaum Muslimin sepakat untuk tidak saling berperang. Demikianlah keadaan yang disebutkan oleh para sejarawan seperti Ath Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Atsir, Ibnu Hazm dan yang lainnya.

Ketika itu para pengikut Abdullah bin Saba sepakat akan melakukan apa pun agar kesepakatan tersebut dibatalkan. Menjelang waktu subuh, ketika orang-orang sedang terlelap, sekelompok orang dari mereka menyerang pasukan Thalhah dan Az Zubair lalu membunuh beberapa orang diantara pasukan mereka. Setelah itu, mereka melarikan diri.
Pasukan Thalhah mengira bahwa pasukan Ali telah mengkhianati mereka. Pagi harinya, mereka menyerang pasukan Ali. Melihat hal itu, pasukan Ali mengira bahwa pasukan Thalhah dan Az Zubair telah berkhianat. Serang-menyerang antara kedua pasukan ini pun berlangsung sampai tengah hari. Selanjutnya, perang pun berkecamuk dengan hebatnya.

Perang Jamal terjadi bukan keinginan Khalifah Ali, ‘Aisyah, Thalhah, Az Zubair beserta pasukan mereka. Perang itu terjadi akibat provokasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba dan pengikutnya yang terlibat pembunuhan Khalifah Utsman. Bagi pelaku kejahatan negara, stabilitas pemerintahan jadi ancaman bagi mereka. Ketika pemerintah kuat sudah pasti mereka akan dihukum. Tidak ada jalan lain bagi penjahat negara selain menciptakan instabilitas, membumi hangus soliditas masyarakat untuk menghapus jejak.

Dari sini kita dapat pelajaran bahwa penjahat negara seperti HTI akan selalu membuat onar. Insiden kecil dibesar-besarkan. Bila perlu membuat hoax. Mendramatisir fakta. Untung pengurus Banser bersikap proporsional. Jika tidak, “perang Jamal” terulang lagi di sini.

BANSER, HTI DAN PERANG JAMAL





Spirit berkurban tidak hanya untuk menyejahterakan fakir miskin dengan membagikan dagingnya, tapi juga merupakan momentum untuk menjalin solidaritas dan semangat gotong royong. Saat hari raya Nahar (Idul Adha), masyarakat berbondong-bondong meramaikan dan saling bantu-membantu menyukseskan pelaksanaan ibadah kurban, mulai dari proses penyembelihan, pembagian hingga melahap dagingnya secara bersama-sama.  

 

Semangat kebersamaan juga terjalin di kalangan pihak yang berkurban. Sering dijumpai praktik patungan atau kongsi untuk membeli binatang kurban, misalnya di sekolahan, mitra kerja dan tempat lainnya. Sebagian di antaranya patungan membeli kambing, ini biasa terjadi untuk mereka yang terkendala dana. Bagaimana hukumnya?  

 

Syariat telah menetapkan standar maksimal jumlah kapasitas mudlahhi (orang yang berkurban) untuk per satu ekor hewan kurban, yaitu unta dan sapi untuk tujuh orang, sementara kambing hanya sah dibuat kurban satu orang. Oleh sebab itu, bila melampaui batas ketentuan ini, binatang yang disembelih tidak sah menjadi kurban, misalnya patungan sapi untuk delapan orang atau kambing untuk dua orang.   Ketentuan ini berlandaskan pada hadits:

 

  عَنْ جَابِرٍ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - قَالَ: «خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مُهِلِّينَ بِالْحَجِّ فَأَمَرَنَا أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ  

 

“Dari jabir, beliau berkata kami keluar bersama Rasulullah seraya berihram haji, lalu beliau memerintahkan kami untuk berserikat di dalam unta dan sapi, setiap tujuh orang dari kami berserikat dalam satu ekor unta,” (HR Muslim).  

 

Dan hadits:

 

   أَنَّ أَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ كُنَّا نُضَحِّي بِالشَّاةِ الْوَاحِدَةِ يَذْبَحُهَا الرَّجُلُ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ بَعْدُ فَصَارَتْ مُبَاهَاة  

 

“Sesungguhnya Abu Ayyub al-Anshari berkata, ‘Kami dahulu berkurban dengan satu kambing, disembelih seseorang untuk dirinya dan keluarganya, kemudian manusia setelahnya saling membanggakan diri maka menjadi ajang saling membanggakan (bukan ibadah)’,” (HR Imam Malik bin Anas).  

Penjelasan lebih lanjut, klik disini

Berqurban 1 unta atau sapi untuk 7 orang


Warga dan pengurus NU sejak awal berdiri, tidak hanya memikirkan organisasi sendiri. Namun, juga merespon perkembangan negara sendiri dan dunia Islam pada umumnya.

 

Khusus untuk Palestina, NU memberikan perhatian yang lebih khusus. Tidak hanya dukungan moral, tapi juga material dalam bentuk uang.    

 

Pada sisi dukungan moral, PBNU melalui majalah yang terbit dwimingguan, yaitu Berita Nahdlatoel Oelama dari edisi 1-24 tahun 1355 H atau 1936 M, setiap kali terbit selalu menginformasikan nasib Palestina.    

 

Dari sisi dukungan material, selepas Kongres NU ke-14 di Magelang, PBNU memerintahkan seluruh cabang mengedarkan celengan iuran derma untuk yatim dan janda di Palestina. Hal itu, dimuat pada Berita Nahdlatoel Oelama No 1 tahun ke-8, edisi 8 Ramadhan 1357 H bertepatan dengan 1 November 1938 M.     

 

Kongres ke-14 di Magelang, maka seloeroeh tjabang NO telah diperintahkan mendjalankan kepoetoesan ya’ni mengidarkan tjelengan derma goena jatim dan djanda di Falisthina, selama dan  di dalam madjelis-madjelis rajabijah di dalam boelan radjab jang baroe laloe ini.    

 

Namun sayangnya, pungutan itu mendapat banyak halangan dari pihak yang berwajib (penjajah Belanda) sehingga di beberapa tempat, pungutan itu dilarang sekali, misalnya di Amboeloe Jember, tetapi dibolehkan Jember sendiri, Situbondo, Bangkalan, Sumenep, Pasuruan, Bangil dan lain-lain.    

 

Padalah pada 12 Agustus tahun itu, PBNU telah berkirim surat kepada Poerkeroel Jenderal di Batavia bahwa NU seluruh Indonesia menjalankan pungutan derma untuk yatim dan janda di Palestina dan akan menjalankan Qunut Nazilah untuk keselamatan umat Islam Palestina.    

 

Sejak surat itu dikirimkan, tidak ada keberatan balasan surat dari Poerkeroel Jenderal. Karena itulah maka PBNU berkeyakinan Poerkeroel Jenderal tidak melarang pungutan itu. Karena berdasarkan aturan yang ada, hanya Poerkeroel Jenderal yang membolehkan dan melarang kegiatan semacam itu berdasarkan Pasal 1 Staastblad 1932 No 559.   

 

Karena halangan itu, pungutan yang dilakukan NU tidak mencapai jumlah yang ditargetkan.    “Soenggoehpoen sedikit, akan tetapi sekadar memenoehi kewadjiban kita oemmat Islam terhadap pada moesibahnja saudara kita oemat Islam, soedahlah kita djalankan. Moega-moega amal NO itoe diterima Allah Soebhanahoe wata ‘ala. Amin.” (Abdullah Alawi)

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/84023/iuran-warga-nu-untuk-palestina-tahun-1938


Solidaritas warga NU untuk Palestina sudah berlangsung sejak era pra-kemerdekaan


Lelucon proyek jembatan surga neraka diceritakan Gus Dur saat menyampaikan pidato dalam sebuah acara. Gus Dur bercerita suatu ketika penghuni surga yang berasal dari Indonesia melakukan musyawarah.

"Mereka berembuk dan sepakat ingin membangun jembatan. Jembatan itu nantinya akan menghubungkan surga dan neraka, sehingga baik penduduk surga dan neraka bisa saling mengunjungi," kata Gus Dur seperti dikutip dari buku, Gus Dur, Kisah-kisah Jenaka dan Pesan-pesan Keberagaman karya Marwini.

Para penghuni surga dan neraka kemudian membentuk panitia masing-masing. Penghuni neraka yang ditunjuk menjadi panitia langsung bekerja merancang struktur bangunan. Tak lama kemudian jembatan dari neraka menuju surga sudah selesai dibangun.

Berbeda dengan penghuni neraka, penghuni surga yang ditunjuk menjadi panitia tak kunjung merampungkan pembangunan jembatan. Jangankan bangunan, rancangan jembatannya saja belum jadi. Penghuni neraka pun marah ke penghuni surga.

"Jembatan kami sudah selesai, sementara kalian ini masih belum melakukan apa-apa," protes penghuni neraka.

"Lah, bagaimana bisa kami mengerjakan pembangunan jembatan ini? Wong pimpinan proyeknya, pemborongnya, dan juga menteri-menterinya di neraka semua," kata penghuni surga.

Proyek jembatan surga neraka


Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar


Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin di berbagai forum saat ditanya tentang khilafah, “tertolak”, tegasnya. Bukan ditolak tapi otomatis tertolak karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 45 adalah hasil kesepakatan. Di sidang gugatan pencabutan badan hukum HTI, dua tahun yang lalu, sebagai penggugat M. Ismail Yusanto (Jurubicara HTI), menggugat kesepakatan tersebut. Katanya, “kalau NKRI hasil kesepakatan, bukan kah suatu kesepakatan bisa diubah”.


Pada prinsipnya suatu kesepakatan boleh diubah bahkan harus diubah jika kesepakatan tersebut merupakan kesepakatan yang batil untuk berbuat maksiat. Misalnya bersepakat untuk membunuh, mencuri atau memperkosa. Pihak-pihak yang bersepakat melakukan perbuatan-perbuatan haram tersebut, harus melepas kesepakatannya tanpa menunggu perintah. Karena ini kesepakatan yang dilarang oleh agama.


Dulu para Founding Father (Muassis) NKRI membuat kesepakatan mendirikan negara untuk tujuan yang syar’i. Bukan untuk tujuan maksiat kepada Allah SWT. Tujuan-tujuan tersebut tercantum dalam Pembukaan UUD 45 alinea ke-4 yang berbunyi: "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”


Tujuan-tujuan pendirian NKRI, tujuan yang Islami. Tujuan-tujuan yang disepakati tersebut meliputi warga negara, bangsa dan negara Indonesia. Baik muslim maupun non muslim. Di luar itu, meski beraqidah Islam, umat Islam yang bukan warga negara Indonesia tidak ikut, tidak tercakup dan tidak terikat dalam kesepakatan tersebut.


Seperti Piagam Madinah. Piagam Madinah bersifat terbatas bagi warga negara Madinah. Dari suku dan agama apapun, asal warga negara Madinah terikat dengan kesepakatan. Selain warga negara Madinah, meski muslim tidak termasuk dalam kesepakatan. Misalnya umat Islam yang berada di Mekkah. Mereka yang tidak ikut hijrah ke Madinah karena berbagai udzur. Dan kaum muslim yang tinggal di Habasyah yang hijrah ke sana sebelum Nabi saw hijrah ke Madinah.


Kesepakatan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45 dan kesepakatan Piagam Madinah, sama-sama kesepakatan politik yang mengikat setiap warga negara. Kesepakatan yang bukan berdasarkan agama dan suku tertentu. Sebab itu, kesepakatan ini wajib dijaga. Tidak boleh diubah. Gugatan M. Ismail Yusanto untuk mengubah NKRI menjadi khilafah karena alasan NKRI hanya lah hasil kesepakatan politik, tertolak selamanya.


Di samping itu, sebuah kesepakatan hanya bisa diubah oleh pihak-pihak yang membuat kesepakatan. Contohnya, kesepakatan soal harga suatu barang. Kesepakatan ini hak mutlak penjual dan pembeli. Hanya penjual dan pembeli yang boleh mengubah kesepakatan mereka. Tidak boleh ada pihak lain yang mengubah harga yang telah mereka sepakati.


Dalam konteks kesepakatan pendirian NKRI, pihak-pihak yang terlibat adalah Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Syarikat Islam, kelompok nasionalis dan perwakilan agama Kristen. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak ikut dalam kesepakatan tersebut. HTI tidak berhak mengubahnya. Sangat tidak etis, M. Ismail Yusanto berkomentar bahwa kesepakatan pendirikan NKRI bisa diubah, sedangkan HTI bukan termasuk pihak yang ikut dalam kesepakatan.


Bukan cuma di Indonesia, di Suriah pun, khilafah tertolak. Khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS, ditolak oleh pejuang khilafah yang lain, al-Qaeda dan Hizbut Tahrir. Terlepas dari apa alasan penolakan tersebut. Khilafah versi Hizbut Tahrir juga ditolak oleh milisi-milisi di Suriah. Delegasi Hizbut Tahrir pernah mendatangi ISIS.


Dalam rilis resmi yang dikeluarkan Hizbut Tahrir, delegasi tersebut datang untuk menyampaikan kritik bahwa khilafah ISIS itu buatan Amerika. Sebenarnya bukan menyampaikan kritik, melainkan mau minta nushrah. Oleh ISIS, delegasi Hizbut Tahrir bukan diberi nushrah, malah dieksekusi mati oleh tentara khilafah.


Demikian juga dengan milisi Jabhah Nushrah dan milisi lainnya. Jabhah Nushrah yang berafiliasi dengan al-Qaeda juga didatangi delegasi Hizbut Tahrir untuk meminta nushrah. Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir Suriah, Hisyam Baba dengan percaya diri mengundang para milisi bertemu di masjid ‘Amawi dekat Damaskus untuk memberi bai’at kepada Amir Hizbut Tahrir agar menjadi khalifah. Ternyata tidak satu pun milisi yang datang. Jabhah Nushrah dan milisi-milisi di Suriah menolak khilafah versi Hizbut Tahrir. Dimana-mana khilafah tertolak.

KHILAFAH YANG TERTOLAK




Benarkah Muktamar NU Mengharamkan Tahlilan? (Bagian 1)

Entah yang ke berapa kalinya Ustadz ini selalu mencari pembenaran atas keyakinannya dengan menyalahkan saudara Muslimnya yang tidak sealiran dengannya. Kalau memang argumennya tepat dan sesuai, kita terima. Ternyata malah dia yang salah. Ini bukan sekedar salah paham, tapi pahamnya yang salah, seperti dalam syair Arab:


وكم من عائب قولا صحيحا • وآفته من الفهم السقيم


"Betapa banyak orang yang menyalahkan pendapat yang benar. Padahal berangkat dari pemahaman yang cacat" (Bahar Wafir)


Sudah seperti biasa, kelompok Salafi yang hendak melarang Tahlilan selalu berupaya mencari dalil di samping dalil yang mereka gunakan. Kali ini mereka memotong sepintas pemahaman yang mereka ambil dari keputusan Muktamar NU ke 2.


Perlu diingat bahwa dalam keputusan Muktamar NU tersebut memang dinyatakan makruh (bukan haram) dengan menampilkan 2 kitab. Pertama dari kitab I'anah Ath-Thalibin yang menghukumi makruh. Kedua dari kitab Fatawa Fiqhiyah Al-Kubra yang juga menghukumi makruh namun ada 'ruang' diperbolehkan.

Yaitu dalam Fatawa Fiqhiyah Al-Kubra 2/7 karya Imam Ibnu Hajar Al Haitami:


(ﻭﺳﺌﻞ) ﺃﻋﺎﺩ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ﻋﻤﺎ ﻳﺬﺑﺢ ﻣﻦ اﻟﻨﻌﻢ ﻭﻳﺤﻤﻞ ﻣﻊ ﻣﻠﺢ ﺧﻠﻒ اﻟﻤﻴﺖ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﻘﺒﺮﺓ ﻭﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ اﻟﺤﻔﺎﺭﻳﻦ ﻓﻘﻂ ﻭﻋﻤﺎ ﻳﻌﻤﻞ ﻳﻮﻡ ﺛﺎﻟﺚ ﻣﻮﺗﻪ ﻣﻦ ﺗﻬﻴﺌﺔ ﺃﻛﻞ ﻭﺇﻃﻌﺎﻣﻪ ﻟﻠﻔﻘﺮاء ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻭﻋﻤﺎ ﻳﻌﻤﻞ ﻳﻮﻡ اﻟﺴﺎﺑﻊ ﻛﺬﻟﻚ ﻭﻋﻤﺎ ﻳﻌﻤﻞ ﻳﻮﻡ ﺗﻤﺎﻡ اﻟﺸﻬﺮ ﻣﻦ اﻟﻜﻌﻚ ﻭﻳﺪاﺭ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺑﻴﻮﺕ اﻟﻨﺴﺎء اﻟﻻﺗﻲ ﺣﻀﺮﻥ اﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪﻭا ﺑﺬﻟﻚ ﺇﻻ ﻣﻘﺘﻀﻰ ﻋﺎﺩﺓ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﻠﺪ ﺣﺘﻰ ﺇﻥ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﺻﺎﺭ ﻣﻤﻘﻮﺗﺎ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺧﺴﻴﺴﺎ ﻻ ﻳﻌﺒﺌﻮﻥ ﺑﻪ ﻭﻫﻞ ﺇﺫا ﻗﺼﺪﻭا ﺑﺬﻟﻚ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻭاﻟﺘﺼﺪﻕ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺃﻭ ﻣﺠﺮﺩ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﺎﺫا ﻳﻜﻮﻥ اﻟﺤﻜﻢ ﺟﻮاﺯ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻭﻫﻞ ﻳﻮﺯﻉ ﻣﺎ ﺻﺮﻑ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﺼﺒﺎء اﻟﻮﺭﺛﺔ ﻋﻨﺪ ﻗﺴﻤﺔ اﻟﺘﺮﻛﺔ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﺽ ﺑﻪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻭﻋﻦ اﻟﻤﺒﻴﺖ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﺇﻟﻰ ﻣﻀﻲ ﺷﻬﺮ ﻣﻦ ﻣﻮﺗﻪ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻛﺎﻟﻔﺮﺽ ﻣﺎ ﺣﻜﻤﻪ


“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.


Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?


Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”


(ﻓﺄﺟﺎﺏ) ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ اﻟﺴﺆاﻝ ﻣﻦ اﻟﺒﺪﻉ اﻟﻤﺬﻣﻮﻣﺔ ﻟﻜﻦ ﻻ ﺣﺮﻣﺔ ﻓﻴﻪ ﺇﻻ ﺇﻥ ﻓﻌﻞ ﺷﻲء ﻣﻨﻪ ﻟﻨﺤﻮ ﻧﺎﺋﺤﺔ ﺃﻭ ﺭﺛﺎء ﻭﻣﻦ ﻗﺼﺪ ﺑﻔﻌﻞ ﺷﻲء ﻣﻨﻪ ﺩﻓﻊ ﺃﻟﺴﻨﺔ اﻟﺠﻬﺎﻝ ﻭﺧﻮﺿﻬﻢ ﻓﻲ ﻋﺮﺿﻪ ﺑﺴﺒﺐ اﻟﺘﺮﻙ ﻳﺮﺟﻰ ﺃﻥ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻪ ﺛﻮاﺏ ﺫﻟﻚ ﺃﺧﺬا ﻣﻦ ﺃﻣﺮﻩ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﺑﻮﺿﻊ ﻳﺪﻩ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﻪ ﻭﻋﻠﻠﻮﻩ ﺑﺼﻮﻥ ﻋﺮﺿﻪ ﻋﻦ ﺧﻮﺽ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻪ ﻟﻮ اﻧﺼﺮﻑ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﻩ اﻟﻜﻴﻔﻴﺔ


Ibnu Hajar menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bidah yang tercela tetapi tidak sampai haram (makruh), kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (bisa jadi haram).


Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menghindari perkataan orang-orang bodoh, agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan. Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.


Tahlilan Menurut Pendiri NU


Muktamar NU ke-2 masih di masa hidupnya Rais Akbar NU. Andaikan haram maka sudah pasti Rais Akbar NU, KH Hasyim, Asy'ari juga mengharamkan. Nyatanya beliau tidak mengharamkan.


Mengapa NU dalam suguhan hidangan menghukumi makruh namun masih diamalkan? Sebab ada ruang diperbolehkan yaitu ketika hal-hal terlarang dihindari, misalnya tidak diambil dari harta anak yatim. Terbukti, pendapat pendiri NU sekaligus Rais Akbar Hadlratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari membolehkan:


فَإِذَا عَرَفْتَ مَا ذُكِرَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا قِيْلَ أَنَّهُ بِدْعَةٌ كَاتِّخَاذِ السَّبْحَةِ وَالتَّلَفُّظِ بِالنِّيَةِ وَالتَّهْلِيْلِ عِنْدَ التَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيِّتِ مَعَ عَدَمِ الْمَانِعِ عَنْهُ وَزِيَارَةِ الْقُبُوْرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَيْسَ بِبِدْعَةٍ (رسالة أهل السنة والجماعة صـ 8)


“Jika anda mengetahui apa yang telah disebutkan (tentang 5 macam Bid’ah), maka anda akan mengetahui tentang tuduhan “Ini adalah bid’ah”, seperti menggunakan tasbih, mengucapkan niat, TAHLIL KETIKA SEDEKAH UNTUK MAYIT DENGAN MENGHINDARI HAL-HAL YANG DILARANG, ziarah kubur dan sebagainya, BUKANLAH BID’AH.” (Risalah Ahlisunnah wal Jamaah hal. 8)


Fatwa Ulama Syafi'iyah Di Yaman


Apa yang dilakukan oleh Nahdliyyin bukan mereka sendiri yang membuat-buat amalan seperti ini, namun juga telah diamalkan di negeri Yaman. Berikut buktinya:


(مَسْئَلَةُ ش) أَوْصَى بِتَهَالِيْلَ سَبْعِيْنَ أَلْفًا فِي مَسْجِدٍ مُعَيَّنٍ وَأَوْصَى لِلْمُهَلِّلِيْنَ بِطَعَامٍ مَعْلُوْمٍ فَالْمَذْهَبُ عَدَمُ حُصُوْلِ الثَّوَابِ بِالتَّهَالِيْلِ اِلاَّ اِنْ كَانَ عِنْدَ الْقَبْرِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَفِي وَجْهٍ حُصُوْلُهُ مُطْلَقًا وَهُوَ مَذْهَبُ الثَّلَاثَةِ بَلْ قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ يَنْبَغِي الْجَزْمُ بِنَفْعِ اللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ اِلَى رُوْحِ فُلَانٍ .... (بغية المسترشدين للسيد عبد الرحمن باعلوي الحضرمي 195)


“(Fatwa Syekh al-Asykhar) Jika seseorang berwasiat dengan Tahlilan sebanyak 70.000 kali di masjid tertentu dan ia berwasiat untuk orang-orang yang melakukan Tahlil dengan makanan tertentu, maka dalam madzhab Syafii tidak sampainya pahala Tahlil, KECUALI dilakukan di dekat kubur. Dalam satu pendapat ulama Syafiiyah bisa sampai secara MUTLAK (baik di masjid, di rumah atau di kuburan). Ini adalah pendapat 3 madzhab. Bahkan Ibnu Shalah berkata: “Dianjurkan untuk yakin dengan manfaatnya doa: Ya Allah, sampaikanlah pahala yang kami baca untuk ruh si fulan....” (Syaikh Abdurrahman Ba’Alawi al-Hadlrami, Bughyat al-Mustarsyidin, hal. 195)


oleh: KH. Ma'ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim

Benarkah Muktamar NU Mengharamkan Tahlilan?

Lakpesdam ,LPNU & LTNU Kota Bontang mengadakan pelatihan internet marketing


           Bontang, 28 Juni 2020 Bertempat di Gedung NU lantai 2 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Bontang melalui lembaga diantara Lakpesdam, LPNU dan LTNU Kota Bontang mengadakan pelatihan internet marketing.

             Dalam Pelatihan yang mengusung tema kiat menghadapi disrupsi dimasa pandemi.
Dalam hal ini salah satunya bertujuan untuk membantu para wirausaha untuk meningkatkan usahanya melalui marketpalace atau online shope.

    Dalam Sambutannya Ketua Panitia sekaligus Ketua Lapesdam PCNU Kota Bontang, menyampaikan. Acara yang terselenggara atas kerja sama antara Lakpesdam,  LPNU dan LTNU bontang. bertujuan untuk merangsang para wirausaha untuk menggarap usaha berbasis digital atau online dan harapkan para penjual mulai melek terhadapt internet marketing  melalui media sosial.

           Acara yang di hadiri oleh ketua Tanfidziah pc nu kota bontang Ir. haji kamilan sekaligus dalam sambutannya beliau mengatakan pengusaha Ahli Sunnah wal jamaah harus bisa bersaing dan meningkatkan perekonomian daerah.

        Dalam pelatihan yang diikuti kurang lebih 20 Peseta  ini.  dibekali dua materi di antaranya menjual di market palace melalui Facebook oleh narasumber  Ustd miftahul alim dan instagram oleh owner bontang Food oleh yulianti basri.

Team Liputan LDNUtv melaporkan

Lakpesdam, LPNU & LTNU Kota Bontang mengadakan pelatihan internet marketing


Assalamualaikum Wr Wb.

Darurat dan dibutuhkan dengan segera 2 kantong golongan darah B untuk Ibu Sulastri istri KH. Ir. Kamilan (Ketua PCNU Bontang).

Ibu Sulastri saat ini sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit Islam Bontang Yabis.

Bagi rekan-rekan, saudara-saudara di Bontang yang memiliki golongan darah B dapat langsung mendonorkan darahnya di PMI Bontang di Jl. Pangeran Suryanata No 27 Bontang.

Atas keikhlasannya disampaikan banyak terima kasih. Jazakumullah khoiron katsiron.

Wassalamualaikum Wr. Wb.



Darurat! Dibutuhkan 2 kantong darah gol B


KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu, Desa Tanagara, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Beliau terlahir dari pasangan KH Abuya Dimyathi bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma' binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M/ 28 Jumadal Ula 1374 H.

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya, Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih siyahah (berkelana) di pondok-pondok pesantren di nusantara sekaligus bersilaturahim, bertabarruk dan tholab (menuntut ilmu) pada para ulama sepuh kala itu.

Setelah tamat SR pada tahun 1965 M, beliau diajak oleh ayahandanya untuk ikut siyahah (merantau/mengembara) sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun. Dan pada tahun 1975 M, beliau mengikuti ayahandanya iqomah di Kampung Cidahu, Desa Tanagara, Kec. Cadasari Kab. Pandeglang, Banten sambil merintis pondok pesantren.

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti beliau berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena beliau masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahanda beliau sampai akhir hayat ayahanda beliau pada 3 Oktober 2003 M/ 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil beliau badzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun dan berhasil mengkhatamkan banyak kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, beliau mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan qiro'ah, beliau tidak cuma ahli dalam Qiro'ah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiro'ah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Qur'an. Dari fan ilmu Al-Qur'an, beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau beliau disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Muta'akhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena beliau juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim beliau berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang beliau ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahanda beliau.

Dan pada saat ini, beliau membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiro'atil ‘Asyr dll. Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin beliau, karena beliau adalah seorang ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang beliau masih menjalani Shaumuddahri/ puasa setiap hari bertahun-tahun.

Sumber : A.Khoirul NU Online

BIOGRAFI ABUYA MUHTADI DIMYATHI BANTEN


KD 3. 1
Mengidentifikasi fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi interpersonal lisan dan tulis yang melibatkan tindakan menyapa, berpamitan, mengucapkan terimakasih, dan meminta maaf, serta menanggapinya, sesuai dengan konteks penggunaannya.

  1. Menyapa (Greeting), klik disini
  2. Berpamitan (Leave-Taking), klik disini
  3. Mengucapkan Terima Kasih (Thanking), klik disini
  4. Meminta Maaf (Apologizing), klik disini

Materi Pembelajaran Jarak Jauh Muatan Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 7


Pertanyaan itu sering terlontar dari mereka yang sok mengerti NU

Berikut jawabannya:

1. KH. Said Aqil Siroj Ketua Tanfidziyah NU saat ini adalah tokoh NU yang paling getol menolak faham Wahhabi yang terbukti telah menimbulkan keresahan di masyarakat karena ceramahnya yang selalu menyinggung dan menebarkan kebencian kepada amaliah Ahlussunnah Wal-Jama'ah.

2. KH. Said Aqil Siroj selaku Ketua Tanfidziyah NU memprakarsai rekonsiliasi Kelompok terbesar umat Islam seluruh dunia, yaitu Sunni dan Syiah agar bersatu dalam satu barisan membangun peradaban dan kejayaan Islam dan merebut kepemimpinan dunia dari Barat.

3. KH. Said Aqil Siroj selaku Ketua Tanfidziyah NU dalam kasus Pilkada DKI memposisikan NU sebagai ormas yang netral, tidak menyatakan mendukung dan juga tidak menyatakan menolak. Hanya menegaskan agar menyerahkan kasus Ahok pada proses hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. KH. Said Aqil Siroj selaku Ketua Tanfidziyah NU konsisten tetap menjaga agar dakwah NU tetap dalam garis para pendahulu yaitu Islam yang berbudaya dan berperadaban santun sebagaimana ditanamkan oleh Para Wali penyebar Islam di Nusantara, sehingga peradaban dan budaya yang ditinggalkan oleh para Wali tersebut tetap lestari karena terbukti menjadikan umat Islam Indonesia dgn ciri khas ramah dan santun bahkan KH. Said Aqil Siroj mengkampanyekannya ke seluruh dunia.

5. KH. Said Aqil Siroj selaku Ketua Tanfidziyah NU setia kepada Pancasila,Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD45 disingkat PBNU. Sampai kapanpun NU akan terus mengawal PBNU. Tegas dan akan terus menjdi garda terdepan.

6. KH Said adalah kader terbaik Gus Dur dan Doktor bahkan Profesor  tasawuf Indonesia  Di atas inilah yang menjadikan mereka yang tidak sepemikiran dengan poin-poin di atas menjadikan KH. Said Aqil Siroj sebagai sasaran bully, sasaran propaganda negatif, dan menjadikan beliau sebagai musuh utama.

Mereka melalui jaringan medianya memprovokasi dan memfitnah KH. Said Aqil Siroj dan NU tiada henti. Entah sampai kapan.

يا جبار يا قهار

Semoga Allah SWT melindungi kita semua. 
اللهم صَل وسلم وبارك على سيدنا ومولانا محمد

Kenapa Sekelas KH Said Aqil Siradj Dibully Orang Awam yang Sok Tahu?




Assalamu'alaikum Wr. Wb

Semoga kita semua senantiasa dalam Hidayah Allah SWT. Atas nama Cyber NU Bontang, kami menawarkan bapak/ibu untuk menjadi donatur Pengadaan Alat Multimedia Cyber NU Bontang. Setelah kami kalkulasi pengadaan alat tersebut membutuhkan biaya sebesar Rp. 47.000.000 . Adapun pendapatan donasi akan difungsikan untuk :

1. Pengadaan Camera
2. Laptop Server
3. Mic Wireles
4. Trepod
5. Lampu Led Penerangan


Donasi bisa dikirim ke :
No Rek : 5280000051(Bank Kaltimtara Syariah) atas nama Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama.

Kode bank : 124

Jika sudah mengirimkan donasinya. Bisa konfirmasi ke No. 081515198572

Semoga dengan alat yang lebih memadai, kedepan tim cyber NU Bontang akan lebih bisa berkembang lagi. Dan Bapak/Ibu yang menjadi donatur pengadaan alat dakwah NU di Bontang menjadi bagaian mujahid pejuang NU yang masuk dalam cakupan doanya Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari. 

“Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”.

Salam Hormat


Tim Cyber NU Bontang

_Wassalamu'alaikum Wr. Wb

1. Bpk. Rahmad Samidi 1.000.000 ✅ (Tf)
2. Bpk. Slamet Rahardjo 500.000✅(Tf)
3. Abah H. kamilan 800.000✅ (Chas)
4. Hj. Basyiroh 500.000✅(Tf)
5. Sunanto 500.000✅(Tf)
6. Kang Fiqi 150.000✅(Tf)
7. Samian 500.000 ✅(Tf)
8. P. Rozi 500.000 ✅(Tf)
9. A Buchory NH 1.000.000✅ (Chas)
10. Hamba Gusti Allah 500.000 ✅(Tf)
11. Kang Joko 100.000✅(Tf)
12. Ibu Nur Sa'idah 500.000✅(Tf)
13. Bapak Sarif 500.000✅ (Chas)
14. Ust. Abdul Ghofur 300.000✅(Tf)
15. Ust. Imron 500.000✅ (Chas)
16. Abah H. Isa 500.000✅ (Chas)
17. JRA El-Santang 1.200.000✅ (Chas)
18. Ibuk e ayuk 200.000✅
19. Abah Muhadi BTN 2.000.000✅(TF)
20. 
21. 
22. 
23. 
24. 
25. 
26. 
27. 
28. 
29. 
30. 

Silahkan dilanjutkan. 🙏🙏🙏

DICARI !!! DONATUR PENGADAAN ALAT MULTIMEDIA CYBER NU BONTANG


Mereka menyalahkan Amaliah ziarah kubur yang duduk lama sambil baca Qur'an sebagai cara yang menyalahi sunah Nabi shalallahu alaihi wasallam. Andaikata mereka membaca tuntas kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qayyim tanpa terpengaruh dengan catatan kaki ulama Salafi tentu mereka akan menerima perbedaan pendapat.


Mari kita turunkan tensi ego kita dengan berkaca kepada Imam Ahli hadis yang digelari penghafal 1.000.000 hadis, yaitu Imam Ahmad bin Hambal:


ﻭﺭﻭﻱ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: اﻟﻘﺮاءﺓ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ ﺑﺪﻋﺔ، ﻭﺭﻭﻱ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﻫﺸﻴﻢ، ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﻧﻘﻞ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺟﻤﺎﻋﺔ، ﺛﻢ ﺭﺟﻊ ﺭﺟﻮﻋﺎ ﺃﺑﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ


Diriwayatkan dari Ahmad bin Hambal bahwa beliau berkata: "Membaca Qur'an di kubur adalah bidah". Juga diriwayatkan dari Husyaim. Abu Bakar berkata bahwa riwayat itu disampaikan oleh banyak ulama. Kemudian Ahmad bin Hambal meralat dan menjelaskan pendapatnya sendiri


ﻓﺮﻭﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺃﺣﻤﺪ ﻧﻬﻰ ﺿﺮﻳﺮا ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ، ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻪ: ﺇﻥ اﻟﻘﺮاءﺓ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ ﺑﺪﻋﺔ. ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻗﺪاﻣﺔ اﻟﺠﻮﻫﺮﻱ: ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ: ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﻣﺒﺸﺮ اﻟﺤﻠﺒﻲ؟ ﻗﺎﻝ: ﺛﻘﺔ.


Sekolompok ulama meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hambal melarang orang buta membaca Qur'an di makam dan mengatakan bidah. Lalu Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari bertanya: "Wahai Abu Abdillah (Ahmad bin Hambal) apa komentarmu tentang Mubashir Al-Halabi? Ahmad menjawab: "Dia perawi terpercaya"


ﻗﺎﻝ: ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﻣﺒﺸﺮ، ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ، ﺃﻧﻪ ﺃﻭﺻﻰ ﺇﺫا ﺩﻓﻦ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ اﻟﺒﻘﺮﺓ ﻭﺧﺎﺗﻤﺘﻬﺎ، ﻭﻗﺎﻝ: ﺳﻤﻌﺖ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻮﺻﻲ ﺑﺬﻟﻚ. ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ: ﻓﺎﺭﺟﻊ ﻓﻘﻞ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻳﻘﺮﺃ


Muhammad bin Qudamah berkata bahwa Mubashir mengabarkan kepadaku dari ayahnya bahwa ia berwasiat agar di dekatnya dibacakan awal dan akhir Al-Baqarah. Ia berkata bahwa ia mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu. Ahmad bin Hambal berkata: "Susul orang itu dan katakan kepadanya baca Qur'an di kubur" (Al-Mughni, li Ibni Qudamah, 2/422)


Lihatlah kelapangan Imam Ahmad dalam menerima kebenaran, yang awalnya beliau mengatakan bidah kemudian justru memerintahkan membaca Qur'an di makam.


Kalau mereka masih membandel karena dalilnya hanya waktu pemakaman saja, maka jawab dengan pendapat Imam mereka yaitu Syekh Ibnu Taimiyah:


عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ وَصَّى أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ دَفْنِهِ بِفَوَاتِحِ الْبَقَرَةِ وَخَوَاتِمِهَا وَالرُّخْصَةُ إمَّا مُطْلَقًا وَإِمَّا حَالَ الدَّفْنِ خَاصَّةً (جامع المسائل لابن تيمية 3 / 132)


Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya. Dispensasi ini bisa jadi secara mutlak (boleh baca al-Quran di kuburan kapan saja), dan bisa jadi khusus ketika pemakaman saja" (Ibnu Taimiyah, Jami' al-Masail III/132)


Kalau dalil di atas masih menjadikan mereka bersikeras tetap menolak karena hanya wasiat Shahabat saja bukan hadis, maka bacakan kepada mereka hadis berikut ini:


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)


"Dari Abdurrahman bin 'Ala' dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)


Hadis ini dinilai oleh Al-Hafidz Al-Haitsami bahwa para perawinya adalah terpercaya.


Jika masih menolak, maka saya bukanlah pemberi kesadaran apalagi hidayah kepada mereka. Allahu Al-Musta'aan.


Ma'ruf Khozin (Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim)

Hari Gini Masih Tanya Dalil Baca Qur'an Di Kuburan?



Seorang pemuda bertanya kepada Habib Umar bin Hafidz:

Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak balik?

Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik?

Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama makhluq?

Tidakkah hanya Allah saja yang layak disembah?

Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik. Habib Umar hanya tersenyum mendengar ucapan dan pertanyaan dari seorang pemuda tersebut.

Lantas Habib Umar memanggil pemuda tadi dan mendekatinya.

Habib Umar mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda tersebut kemudian menjatuhkannya ke bawah.

Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya kebawah guna mengambil pena tersebut, Habib Umar menahannya dan berkata: “Jangan menunduk!, tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”

“Tidak, aku hanya ingin mengambil penaku di bawah.” Lantas Habib Umar berkata: “Aku ini ibaratkan pena, seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena, Begitu juga dengan murid-muridku mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku, Aku tidak pernah memaksa, aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda; Seorang thalabul ilim tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”

Kenapa santri selalu cium tangan guru?


Dakwah di antara kita memang lebih banyak mengajak orang yang sudah baik menjadi lebih baik. Masih sedikit yang menyentuh dunia dakwah yang lebih jauh, seperti orang-orang yang belum mengenal Islam sama sekali. Kita bersyukur ada yang berdakwah ke arah itu, dan hasilnya memang terlihat. Biasanya komunitas ini disebut "Hijrah".

Hijrah itu ada 2 macam.

(1) Hijrah tempat, dari 1 kota ke kota lain. Seperti Nabi shalallahu alaihi wasallam hijrah dari Makkah ke Madinah.

ﻋَﻦِ اﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ اﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻡَ اﻓْﺘَﺘَﺢَ ﻣَﻜَّﺔَ: ﻻَ ﻫِﺠْﺮَﺓ، ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺟِﻬَﺎﺩٌ ﻭَﻧِﻴَّﺔٌ، ﻭَﺇِﺫَا اﺳْﺘُﻨْﻔِﺮْﺗُﻢْ، ﻓَﺎﻧْﻔِﺮُﻭا

Ibnu Abbas -Radhiyallahu Anhuma- mengatakan bahwa saat pembebasan Kota Makkah Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada kewajiban hijrah lagi setelah pembebasan Kota Makkah. Yang ada adalah Jihad dan niat. Jika kalian diperintah berangkat jihad maka berangkatlah" (HR Bukhari no. 1834)

(2) Hijrah perbuatan, dari yang buruk kepada yang baik. 

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﻤْﺮٍﻭ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ، ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: «اﻟﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻣَﻦْ ﺳَﻠِﻢَ اﻟﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻳَﺪِﻩِ، ﻭاﻟﻤُﻬﺎﺟِﺮ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ» 

Dari Abdullah bin Amr -Radhiyallahu Anhuma- bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Seorang Muslim yang sempurna adalah orang yang bisa menjaga tangan dan mulutnya untuk tidak menyakiti umat Islam. Dan hakikat orang yang Hijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah" (HR Bukhari no. 10)

Jika ada orang hijrah dari kehidupan hitam menuju kehidupan Islami, tapi merasa lebih baik dan merendahkan orang lain, ini namanya keluar dari mulut macan tapi terperosok ke mulut buaya, sebab ia telah jatuh ke dalam kesombongan. Dan sombong itu dilarang dalam Islam.

Jadi, hijrah itu bukan cuma berubah tampilan fisik, tapi juga mengobati penyakit-penyakit hati seperti ujub (bangga diri), sombong, iri hati, pemarah, suka pamer ibadah, dan sebagainya.

Oleh: KH. Ma'ruf Khozin

Setelah Hijrah Menjadi Sombong



Al-Habib Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, M.A

• Nabi Muhammad SAW
• Fatimah Az-Zahra
• Al-Imam Sayyidina Hussain
• Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
• Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
• Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
• Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
• Sayyid Muhammad An-Naqib bin
• Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
• Ahmad al-Muhajir bin
• Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
• Sayyid Alawi Awwal bin
• Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
• Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
• Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
• Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
• Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
• Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
• Sayyid Abdullah Al-’Azhomatul Khan bin
• Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
• Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan Al Husein bin
• Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @ ‘Ali Nurul ‘Alam
• Sayyid ‘Umdatuddin Abdullah Al-Khan bin
• Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan
• Pangeran Pasarean @ Pangeran Muhammad Tajul Arifin
• Pangeran Dipati Anom @ Pangeran Suwarga @ Pangeran Dalem Arya Cirebon
• Pangeran Wirasutajaya ( Adik Kadung Panembahan Ratu )
• Pangeran Sutajaya Sedo Ing Demung
• Pangeran Nata Manggala
• Pangeran Dalem Anom @ Pangeran Sutajaya ingkang Sedo ing Tambak
• Pangeran Kebon Agung @ Pangeran Sutajaya V
• Pangeran Senopati @ Pangeran Bagus
• Pangeran Punjul @ Raden Bagus @ Pangeran Penghulu Kasepuhan
• Raden Ali
• Raden Muriddin
• KH Raden Nuruddin
• KH Murtasim ( Kakak dari KH Muta’ad leluhur pesantren Benda Kerep & Buntet )
• KH Said ( Pendiri Pesantren Gedongan )
• KH Siraj
• KH Aqil
• KH Said Aqil Siraj ( Ketua PBNU )

Mungkin masih banyak yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa Ketua PBNU, Prof. Dr. KH Sa'id Aqil Siradj juga seorang "Habib" alias keturunan (dzurriyah) Rasulullah saw. Ini nih silsilah lengkapnya supaya paham, kalau perlu dihafal, hehehe...

KH. Said Agil Siradj bin KH Agil bin KH Siradj bin KH Said (gedongan) bin KH Murtasim bin KH Nuruddin bin KH Ali bin Tubagus Ibrahim bin Abul Mufakhir (Majalengka) bin Sultan Maulana Mansur (Cikaduen) bin Sultan Maulana Yusuf (Banten) bin Sultan Maulana Hasanuddin bin Maulana Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) bin Abdullah bin Ali Nurul Alam Syeh Jumadil Kubro bin Jamaludin Akbar Khan bin Ahmad Jalaludin Khan bin Abdullah Khan bin Abdul Malik al-Muhajir (Nasrabad India) bin Alawi Ammil Faqih ( Hadrulmaut) bin Muhammad Shohib Mirbat Ali Kholi' Qosam bin Alawi atsani bin Muhammad Shohibus Saumi'ah bin Alawi Awwal bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa ArRumi bin Muhammad an Naqib bin Ali 'Uraidhi bin Ja'far as Shodiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra Ra binti Sayyidina wa Maulana Rasulullah Muhammad SAW.

Menurut versi lain (yang lebih shahih), yakni menurut ketua Naqobah kesultanan Banten (Zein Sempur Al bakri). KH Said Aqil Siraj adalah keturunan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati Cirebon) melalui jalur nasab Kraton Gebang Ilir Kuningan Cirebon.. bukan melalui jalur sultan Banten seperti yang banyak beredar di dunia maya.

Nah, terlepas dari perbedaan versi di atas, tapi jelas kan, bahwa garis nasab beliau ini sambung hingga ke Rasulullah saw. Bahkan, Kiai Sa'id juga keturunan para wali dan ulama top. Namun, seperti kebanyakan kiai dan ulama NU, banyak yang namanya tidak diberi "Habib". Bagi warga NU, guru harus dihormati, entah dia habib atau bukan, bergelar akademik tinggi atau tidak, setiap guru harus dihormati. Inilah akhlaq.
Sumber: Diambil dari FB mwc NU Panai Hilir.

Silsilah Al-Habib KH. Said Aqil Siradj Ketua Umum PBNU


Masih tentang New Normal. Belajar dari pengalaman lalu, baik itu Stay at home atau Work form home. Nampaknya New Normal sesuai standar protokoler akan hanya berjalan beberapa minggu saja jika tanpa control yang tegas. Contoh konkret saja, himbauan untuk cuci tangan dengan teratur setelah beraktifitas. Hal ini hanya gencar dilakukan awal-awal saja saat momok pandemi sedang "seram-seramnya" di mata masyarakat. Setelah itu ? Ya biasa-biasa saja. 

Bagi para pemangku kebijakan sebagaimana pemerintah, memang sangat berat jika harus mengawasi setiap orang untuk harus menerapkan kebijakan yang include dalam tatanan New Normal di berbagai skup lapisan. Mungkin hanya beberapa hal saja yang bersifat paten dan layanan publik yang bisa dipertahankan. 

Pembukaan tempat ibadah dianjurkan tidak menggunakan karpet dan menjaga jarak antar saf, ini bisa dilakukan karena faktor sekali kerja dan bersifat publik. Tanpa menggunakan karpet sebagai alas untuk shalat sudah lama diterapkan. Karena hanya butuh sekali kerja. Karpet digulung, selesai urusan. Pembatasan jarak antar saf, ini juga masih bisa dilakukan, karena bersentuhan langsung dengan publik. Jika tidak melakukannya maka pelaku akan mendapatkan sanksi sosial atau teguran langsung dari masyarakat. Lalu bagaimana dengan hal-hal yang bersifat individual seperti cuci tangan, tidak pergi keluar kota tanpa urusan yang urgen, penggunaan masker dan beberapa kebijakan lainnya ?

Penerapan New Normal akan diterapkan dalam skala nasional, disini peran masyarakat sangat amat penting. Karena sekali lagi, terlalu berat jika harus bertumpu kepada pemerintah saja tanpa kerja sama yang baik dengan masyarakat. 
Jika dibahasakan, dalam memasuki New Normal ini, yang kita butuhkan adalah self control atau pengontrolan diri dari masing-masing individu, kembali kepada kesadaran individu. Atau bisa juga family control. Dimulai dari skup terkecil dalam bermasyarakat, yaitu keluarga. 

Untuk memulai New Normal, dapat kita terapkan dilingkup terkecil kita. Yaitu keluarga. Di lingkup ini, walaupun hal-hal tatanan dalam New Normal yang bersifat individu dapat kita terapkan bahkan dapat dilakukan secara "paksa". Sebagaimana penggunaan masker, cuci tangan dengan rutin, atau menahan diri tidak keluar kota terlebih dahulu.

Jepang adalah salah satu negara yang memiliki peradaban yang sangat apik, baik dari segi tatanan sosial, kultur, dan pola hidup. Karena masyarakat Jepang sangat menghargai tradisi nenek moyang mereka. Dan tradisi itu dijaga sebegitu kuat. Kenapa tradisi masyarakat Jepang bisa sangat kuat walaupun mereka sedang menghadapi dunia modern ? Karena penguatan tradisi mereka bukan hanya dilakukan di sektor pendidikan (sekolah) saja. Tetapi juga dikuatkan dari internalnya melalui keluarga.

Pendidikan pertama yang kita dapat adalah dari keluarga. Bahkan, dari skup inilah karakter seseorang bisa dibentuk sesuai dengan apa yang menjadi tradisi dalam keluarga. Kita bisa menghadapi New Normal, Indonesia bisa menghadapi New Normal, dan itu semua bisa dimulai dari skup terkecil, yaitu keluarga.

Miftahul Alim (Ketua LTN-NU Bontang)

New Normal dan Peran Keluarga



Bagi anda para pecinta One Piece, tentu Tak asing lagi dengan istilah New World atau yang disebut dengan Dunia Baru. Dunia Baru adalah lautan luas bagian lain yang digambarkan di sana banyak hal-hal luar biasa yang ditemui oleh kru bajak laut Topi Jerami. Manga anime besutan dari Jepang karya tangan Eiichiro Oda ini mengisahkan tentang perjalanan sekelompok bajak laut yang ingin mendapatkan harta karun terbesar di dunia One Piece yang juga disebut "One Piece". 

Pada era sebelumnya, sebelum kru bajak laut Topi Jerami ini memasuki Dunia Baru atau New World, mereka belum merasakan perbedaan dari segi kekuatan ataupun peradaban yang dimiliki oleh bajak laut bajak laut lainnya. Setelah sampai di pulau Sabaody, disinilah sisi lain New World sedikit ditampakkan. Alangkah terkejutnya kelompok bajak laut yang menjadi ikon anime manga jepang yang menduduki peringkat pertama sebagai manga terfavorit ini. Mereka menyaksikan kekuatan-kekuatan yang dahsyat yang dimiliki oleh kru-kru bajak laut maupun angkatan laut dan para aliansinya.

Di Sabaody, kru Topi Jerami dibuat kalangkabut oleh angkatan laut. Saat itu mereka belum memiliki tingakatan kekuatan sebagaimana episode sekarang. Mereka mengalami keputus-asaan. Luffy, sebagai tokoh utama dalam serial manga ini yang biasanya selalu percaya diri dan tak pernah menyerah, disini ia mengaku bahwa kekuatannya belum sama sekali siap untuk menghadapi musuh-musuhnya. Baik dari aliansi bajak laut lain maupun angakatan laut. Kalimat keputus-asaan itu nampak jelas saat ia berteriak kepada para anggotanya "kalian semua, lari sebisa mungkin, saat ini kita tidak bisa melawan mereka". 

Sungguh ini bukanlah karakter Luffy yang kita kenal, yang biasanya selalu optimis walau ditengah hal-hal konyol yang ia lakukan. Namun pada saat itu ia sadar, kru nya akan menjadi bulan-bulanan empuk jika ia bertindak dengan ego sebagaimana biasanya atau dengan hal-hal konyol yang lain. 

Dari sinilah kru Topi Jerami belajar banyak hal. Untung saja, saat itu salah satu musuh yang ia hadapi adalah Bartholomew Kuma, mantan anggota Pasukan Revolusi, yang tidak lain adalah anggota dari ayah kandung Luffy. Sebelum Kuma kehilangan ingatannya sepenuhnya untuk dijadikan sebagai robot penghancur atau Cyborg Pasifista. Ia memanfaatkan momentum ini untuk berbuat baik terakhir kalinya. Dengan kemampuan buah iblis "Nikyu Nikyu no Mi", memberinya bantalan telapak tangan yang menyimpan kekuatan untuk "memantulkan" apa saja, termasuk udara di sekitarnya dalam kecepatan tinggi. ia juga mempu menggunakannya sebagai mode teleportasi untuk apa saja yang disentuhnya. 

Saat dalam situasi keputus-asaan ketika melawan angkatan laut. Kuma memukul satu persatu anggota kru Topi Jerami untuk dipindahkan ke tempat-tempat yang asing. Dan di tempat-tempat inilah yang kelak akan menjadi tempat masing-masing anggota kru Topi Jerami untuk meningkatkan kemampuan mereka. Berapa lama mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk ke Dunia Baru atau New World ? Dua tahun. Iya, dua tahun. Yang sebelumnya mereka sepakat untuk bertemu lagi di pulau sabaody 3 hari kedepan, namun karena keputusan sang kapten. Mereka sepakat akan bertemu di pulau sabaody setelah 2 tahun lamanya. 

Berbicara tentang New World. Mengingatkan saya dengan istilah baru yang belakangan ini sering dibahas, yaitu New Normal. Secara singkat, New Normal adalah mengajak masyarat menjalankan kembali hidup normal namun dengan beberapa tatanan baru. Tentu hal ini tak lepas akibat ulah Pandemi yang sampai saat ini belum juga usai. Lantas apa hubungannya New Normal dan New World. Ya tidak ada hubungan apa-apa, New World itu istilah dalam anime One Piece, dan New Normal adalah istilah yang akan kita gunakan untuk menyongsong hidup normal kedepan. 

Namun tak ada salahnya jika kita belajar dari kisah kru Topi Jerami diatas. Sebelum mereka memasuki Dunia Baru atau New World, mereka merasa baik-baik saja dan apa yang mereka miliki pada saat itu mereka merasa sudah sangat cukup, Namun saat mereka akan memasuki Dunia Baru, mereka baru merasakan perbedaan yang sangat signifikan. Terutama dari sisi kekuatan. Tentu dalam dunia nyata kekuatan bukanlah hal utama sebagai tolok ukur, tetapi kekuatan disini bisa juga kita artikan sebagai kesiapan kita untuk menyongsong tatanan dalam memasuki New Normal. 

Bukan untuk menakut-nakuti, 3 bulan lalu. Kita dipaksa untuk menerapkan hidup serba online. Karena tidak adanya kesiapan yang matang, membuat beberapa orang merasa tak mampu dan akhirnya memiliki hasil yang tidak optimal. Kesiapan menuju New Normal merupakan hal penting, sebagaimana yang dilakukan kru Topi Jerami dalam mempersiapkan diri untuk memasuki Dunia Baru. 

Lantas, persiapan apa saja yang kita butuhkan ? Tentu dalam hal ini masing-masing orang memiliki kebutuhan yang berbeda, tergantung profesi dan keahliannya dibidang masing-masing. Namun setidaknya ada beberapa pola kesiapan yang seharusnya dimiliki semua orang. 

Pertama, harus terbiasa dengan hal-hal yang bersifat protokoler, terlebih protokoler kesehatan. Masyarakat kita nampaknya sedikit "kikuk" jika harus menerapkan sesuatu kudu sesuai protokolnya. Contoh kecil saja tentang masalah antre, budaya antre masyarakat kita masih belum cukup matang. Ini contoh kecil saja, karena antre juga bagian dari standar yang harus dilakukan saat kita berada dilingkup pelayanan publik. Belum lagi hal-hal yang bersifat protokoler lainnya. 

Kedua, pola membuat kebiasaan baru, bukan mengubah kebiasaan. Image mengubah kebiasaan nampaknya juga berat jika harus dilakukan. Karena kita memiliki semboyon "menjaga tradisi", lalu apa yang harus diubah, yang ada harus di jaga 😃. Yang lebih tepat menurut saya adalah membuat kebiasaan baru. Mungkin hal ini akan lebih mudah kita lakukan. Karena dari segi bahasanya sudah berbeda. Kalaupun pada praktiknya adalah mengubah kebiasaan, hal itu tidaklah bermasalah. Contoh kecil saja, 2 atau 3 bulan lalu. Di beranda kita banyak masyarakat yang antusias untuk berjemur di jam 10 pagi. Yap, ini dilakukan agar tubuh kita kebal dan terhindar daru virus. Namun saat ini, saya tidak sama sekali menemukannya lagi di beranda med-sos saya. Karena mindset awal yang mereka gunakan adalah mengubah kebiasaan. Kebiasaan ngerumpi jam 10 pagi di ubah menjadi berjemur. Kebiasaan nyuci baju jam 10 pagi, diubah atau ditambah dengan kebiasaan berjemur. Kalau saja mereka menerapkan kebiasaan baru, mungkin hal ini akan lebih awet.

Ketiga, beralih ke dunia virtual. Banyak yang tidak siap dengan dunia virtual akhirnya kalangkabut saat dipaksa menerapkannya. Contoh, yang sudah terbiasa berdagang dengan gaya konvensional tanpa diiringi dengan berdagang melalui dunia maya. Saat semua segmen menerapkan PSBP, maka pedagang konvensional ini akan sangat kelabakan. Ia akan ditinggalkan para pembelinya yang sudah mahir menggunakan mode virtual dalam urusan jual beli. Namun tidak bagi mereka yang sudah terbiasa berdagang melalui dunia maya, kalaupun ada penurunan daya beli, tetapi hal tersebut tidak anjlog begitu saja. 

Belajar marketing di dunia virtual saat ini sangat amat penting sekali. Walaupun ada plus dan minusnya. Namun setidaknya saat kita mampu untuk bervirtualisasi, setidaknya kita tidak terlalu tertinggal jauh dengan yang lain. Saat yang lain sudah menggunakan Apk Zoom untuk meeting, kita masih ngeyel rapat harus dengan interaksi langsung. Sekali lagi, jangan tinggalkan dunia Virtual. Apa yang sedang hangat digunakan, segera pelajari itu. Setidaknya, di lain kesempatan apa yang pernah kita pelajari pasti akan bermanfaat. Syukur jika kita bisa belajar masalah IT yang jarang dipelajari orang lain, dan itu memiliki daya jual tinggi. 

Siap untuk masuk Dunia Baru ? Siap untuk masuk New Normal ?
Siap tidak siap harus siap, mau tidak mau harus siap. Persiapkan diri anda se siap mungkin. Karena keadaan akan memaksa diri anda harus siap. Jika anda tidak siap, maka bersiap-siaplah untuk ditinggalkan. 🙂

Miftahul Alim

Ketua LTN-NU Bontang

Menyongsong New Normal (belajar dari manga One Piece)