Tim redaksi :
LTN-NU BONTANG – LBM-NU BONTANG
Ada seorang laki-laki salih dari golongan Bani Israil. Ia memiliki istri, satu orang anak, dan hewan peliharaan sapi betina. Sapi tersebut melahirkan anak yang juga berjenis kelamin betina. Sapi itu diletakkan di dalam hutan belantara. Sesaat Ketika menjelang ajalnya, sang laki-laki salih berwasiat kepada istrinya,” Wahai istriku, berikanlah anak sapi yang kita miliki kepada anak kita saat ia dewasa kelak”. Tidak lama laki-laki itu pun tutup usia. Seiring berjalannya waktu, anak si laki-laki salih itu mulai tumbuh dewasa. Dia bekerja sebagai tukang pencari kayu bakar di hutan, perangai anak ini sama seperti ayahnya dulu, yang juga memiliki kepribadian yang salih. ketika ia telah mendapatkan kayu bakar kemudian hasilnya ia jual dan dibagi menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, sepertiga untuk ibunya, dan sepertiga lagi untuk disedekahkan. Ia juga membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Spertiga malam untuk tidur, sepertiga malam untuk mengabdikan diri kepada ibunya, dan sepertiga malam untuk beribadah kepada Allah SWT. 
Setelah sampai pada usia yang cukup, sang ibu berkata kepadanya,”Wahai anakku, pergilah engkau ke hutan, di dalam hutan itu ada seekor sapi betina yang ditinggalkan ayahmu untukmu, dan ayahmu telah berwasiat, saat engkau dewasa, engkau berhak atas sapi itu, atas izin Allah SWT, sapi itu akan tunduk kepadamu”. Sang anak melaksanakan apa yang diperintahkan sang ibu. Ia pergi ke hutan dan mencari anak sapi betina peninggalan sang Ayah. 
Usaha yang ia lakukan membuahkan hasil, akhirnya ia menemukan sapi anak sapi betina itu, sesuai apa yag telah disampaikan oleh ibunya, benar sapi itu tunduk kepada pemudanya, bahkan sapi itu mampu berbicara. Sapi berkata ,”Naiklah engkau ke atas punggungku wahai anak muda”, pemuda itu menjawab, ”Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkan diriku untuk menunggangimu”, sebenarnya apa yang diucapkan oleh sapi itu adalah sebuah ujian, seandainya pemuda tersebut naik ke punggungnya sapi, sapi itu akan menjadi liar dan pemuda itu tida akan bisa lagi menundukkannya. Singkat cerita, sapi dituntun dan dibawa pulang. 
Sesampainya dirumah, sang Ibu tersebut memberikan perintah,”atas izinku, juallah sapi ini dengan harga tiga dinar”, tidak menunggu lama, pemuda itu segera melaksanakan apa yang diperintahkan Ibunya. Ditengah perjalanan, tiba-tiba ada sosok laki-laki yang mendekati pemuda salih tersebut dan langsung menawar sapi yang ia bawa. “berapa engkau jual sapi ini ?”, pemuda itu menjawab ,”atas izin ibuku, sapi ini aku jual tiga dinar”, laki-laki itu kembali berkata dengan memberikan tawaran yang lebih tinggi,”juallah sapi itu dengan harga enam dinar, dengan syarat jangan meminta izin kepada Ibumu”, pemuda itu menolak tawaran laki-laki asing itu. Diapun kembali pulang dan menceritakan kejadian yang telah ia alami saat di perjalanan kepada sang Ibu. 
Setelah mendengarkan cerita dari sang anak, Ibunya pun memberikan izin bahwa sapi itu boleh dijual dengan harga enam dinar. Dan pemuda itu berangkat kembali. Di perjalanan kejadian serupa terulang. Laki-laki yang sama menemui dirinya dan menawar sapi itu dengan harga dua kali lipat lebih tinggi, yaitu dua belas dinar, lagi-lagi dengan syarat, ia tidak boleh meminta izin kepada ibunya. Pemuda itu sontak menolak. Ia pun kembali pulang dan menceritakan kejadian itu kepada Ibunya. Sang Ibu berkata,”Sesungguhnya laki-laki yang menemuimu adalah malaikat yang di utus oleh Allah SWT, pergilah, temui dia dan ucapkan salam kepadanya, bertanyalah engkau kepadanya, apakah kami boleh menjual sapi ini ?”, Pemuda itu segera pergi lagi, dan melaksanakan apa yang diperintahkan Ibunya.
Setelah bertemu dengan Malaikat yang menyamar menjadi orang asing yang pernah ia temui, ia segera menyampaikan pertanyaan sesuai dengan apa yang diperintahkan ibunya. Apakah sapi ini boleh dijual. Sang Malaikat  memberikan jawaban,”Jangan menjual sapi itu kecuali dengan harga emas seberat kulit sapi.”  
Di waktu yang sama, ada sebuah permasalahan yang sedang terjadi diantara umat Bani Isail, yaitu sebuah kasus pembunuhan yang belum terungkap siapa pelaku sebenarnya. Untuk memecahkan kasus ini, Kaum bani Israil meminta tolong kepada Nabi Musa AS untuk membantu mengungkap siapakah pembunuh yang sebenarnya. Nabi Musa memberikan syarat kepada Kaum Bani Isra’il. Mereka disuruh mencari seekor sapi dengan beberapa ciri khusus, dan ternyata ciri tersebut ada pada sapi yang dimiliki pemuda Salih. Karena pesan dari malaikat yang tida boleh menjual sapi itu kecuali degan harga emas seberat kulit sapi. Terjadi negosiasi antara kaum Bani israil dengan si pemuda. Harga yang begitu tinggi membuat Bani Israil terlalu berat untuk membayarnya. Tetapi pada akhirnya, mau tidak mau kaum Bani Israil pun membayar dengan harga yang telah ditentukan, yaitu emas seberat kulit sapi.
Allah SWT memperlihatkan kebenaran. Setelah sapi itu disembelih, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa As untuk memukulkan bagian tubuh sapi tersebut ke anggota tubuh mayat. Atas izin Allah SWT mayat yang terbunuh hidup kembali dan berkata,”Aku dibunuh oleh dua orang saudara sepupuku”, setelah berucap demikian, kemudia ia kembali mati. Karena kejahatannya, saudara sepupunya yang telah melakukan pembunuhan menerima hukuman qishas. waAllahu ‘A’lam

KISAH ANAK SAPI BETINA DAN PEMUDA BANI ISRAIL

Tim redaksi :
LTN-NU BONTANG – LBM-NU BONTANG
Ada seorang laki-laki salih dari golongan Bani Israil. Ia memiliki istri, satu orang anak, dan hewan peliharaan sapi betina. Sapi tersebut melahirkan anak yang juga berjenis kelamin betina. Sapi itu diletakkan di dalam hutan belantara. Sesaat Ketika menjelang ajalnya, sang laki-laki salih berwasiat kepada istrinya,” Wahai istriku, berikanlah anak sapi yang kita miliki kepada anak kita saat ia dewasa kelak”. Tidak lama laki-laki itu pun tutup usia. Seiring berjalannya waktu, anak si laki-laki salih itu mulai tumbuh dewasa. Dia bekerja sebagai tukang pencari kayu bakar di hutan, perangai anak ini sama seperti ayahnya dulu, yang juga memiliki kepribadian yang salih. ketika ia telah mendapatkan kayu bakar kemudian hasilnya ia jual dan dibagi menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, sepertiga untuk ibunya, dan sepertiga lagi untuk disedekahkan. Ia juga membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Spertiga malam untuk tidur, sepertiga malam untuk mengabdikan diri kepada ibunya, dan sepertiga malam untuk beribadah kepada Allah SWT. 
Setelah sampai pada usia yang cukup, sang ibu berkata kepadanya,”Wahai anakku, pergilah engkau ke hutan, di dalam hutan itu ada seekor sapi betina yang ditinggalkan ayahmu untukmu, dan ayahmu telah berwasiat, saat engkau dewasa, engkau berhak atas sapi itu, atas izin Allah SWT, sapi itu akan tunduk kepadamu”. Sang anak melaksanakan apa yang diperintahkan sang ibu. Ia pergi ke hutan dan mencari anak sapi betina peninggalan sang Ayah. 
Usaha yang ia lakukan membuahkan hasil, akhirnya ia menemukan sapi anak sapi betina itu, sesuai apa yag telah disampaikan oleh ibunya, benar sapi itu tunduk kepada pemudanya, bahkan sapi itu mampu berbicara. Sapi berkata ,”Naiklah engkau ke atas punggungku wahai anak muda”, pemuda itu menjawab, ”Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkan diriku untuk menunggangimu”, sebenarnya apa yang diucapkan oleh sapi itu adalah sebuah ujian, seandainya pemuda tersebut naik ke punggungnya sapi, sapi itu akan menjadi liar dan pemuda itu tida akan bisa lagi menundukkannya. Singkat cerita, sapi dituntun dan dibawa pulang. 
Sesampainya dirumah, sang Ibu tersebut memberikan perintah,”atas izinku, juallah sapi ini dengan harga tiga dinar”, tidak menunggu lama, pemuda itu segera melaksanakan apa yang diperintahkan Ibunya. Ditengah perjalanan, tiba-tiba ada sosok laki-laki yang mendekati pemuda salih tersebut dan langsung menawar sapi yang ia bawa. “berapa engkau jual sapi ini ?”, pemuda itu menjawab ,”atas izin ibuku, sapi ini aku jual tiga dinar”, laki-laki itu kembali berkata dengan memberikan tawaran yang lebih tinggi,”juallah sapi itu dengan harga enam dinar, dengan syarat jangan meminta izin kepada Ibumu”, pemuda itu menolak tawaran laki-laki asing itu. Diapun kembali pulang dan menceritakan kejadian yang telah ia alami saat di perjalanan kepada sang Ibu. 
Setelah mendengarkan cerita dari sang anak, Ibunya pun memberikan izin bahwa sapi itu boleh dijual dengan harga enam dinar. Dan pemuda itu berangkat kembali. Di perjalanan kejadian serupa terulang. Laki-laki yang sama menemui dirinya dan menawar sapi itu dengan harga dua kali lipat lebih tinggi, yaitu dua belas dinar, lagi-lagi dengan syarat, ia tidak boleh meminta izin kepada ibunya. Pemuda itu sontak menolak. Ia pun kembali pulang dan menceritakan kejadian itu kepada Ibunya. Sang Ibu berkata,”Sesungguhnya laki-laki yang menemuimu adalah malaikat yang di utus oleh Allah SWT, pergilah, temui dia dan ucapkan salam kepadanya, bertanyalah engkau kepadanya, apakah kami boleh menjual sapi ini ?”, Pemuda itu segera pergi lagi, dan melaksanakan apa yang diperintahkan Ibunya.
Setelah bertemu dengan Malaikat yang menyamar menjadi orang asing yang pernah ia temui, ia segera menyampaikan pertanyaan sesuai dengan apa yang diperintahkan ibunya. Apakah sapi ini boleh dijual. Sang Malaikat  memberikan jawaban,”Jangan menjual sapi itu kecuali dengan harga emas seberat kulit sapi.”  
Di waktu yang sama, ada sebuah permasalahan yang sedang terjadi diantara umat Bani Isail, yaitu sebuah kasus pembunuhan yang belum terungkap siapa pelaku sebenarnya. Untuk memecahkan kasus ini, Kaum bani Israil meminta tolong kepada Nabi Musa AS untuk membantu mengungkap siapakah pembunuh yang sebenarnya. Nabi Musa memberikan syarat kepada Kaum Bani Isra’il. Mereka disuruh mencari seekor sapi dengan beberapa ciri khusus, dan ternyata ciri tersebut ada pada sapi yang dimiliki pemuda Salih. Karena pesan dari malaikat yang tida boleh menjual sapi itu kecuali degan harga emas seberat kulit sapi. Terjadi negosiasi antara kaum Bani israil dengan si pemuda. Harga yang begitu tinggi membuat Bani Israil terlalu berat untuk membayarnya. Tetapi pada akhirnya, mau tidak mau kaum Bani Israil pun membayar dengan harga yang telah ditentukan, yaitu emas seberat kulit sapi.
Allah SWT memperlihatkan kebenaran. Setelah sapi itu disembelih, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa As untuk memukulkan bagian tubuh sapi tersebut ke anggota tubuh mayat. Atas izin Allah SWT mayat yang terbunuh hidup kembali dan berkata,”Aku dibunuh oleh dua orang saudara sepupuku”, setelah berucap demikian, kemudia ia kembali mati. Karena kejahatannya, saudara sepupunya yang telah melakukan pembunuhan menerima hukuman qishas. waAllahu ‘A’lam

Tidak ada komentar