Benarkah Gula Pasir Berbahaya? Ini Penjelasan Ilmiahnya

 


Gula pasir tidak otomatis “berbahaya”, tapi bisa menjadi masalah jika dikonsumsi berlebihan. Jadi jawabannya: bukan racun, tapi sering disalahgunakan dalam pola makan modern.


Secara ilmiah, gula pasir (sukrosa) adalah karbohidrat sederhana yang cepat diserap tubuh dan menaikkan gula darah. Dalam jumlah wajar, tubuh masih bisa mengelolanya dengan baik. Namun, konsumsi berlebih dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko beberapa masalah kesehatan.


Beberapa dampak jika terlalu banyak konsumsi gula:

  1. Kenaikan berat badan → karena kelebihan kalori
  2. Risiko → terutama jika disertai gaya hidup kurang aktif
  3. Gangguan kesehatan jantung → terkait peningkatan trigliserida
  4. Kerusakan gigi (karies)
  5. Lonjakan dan penurunan energi (gula darah naik-turun cepat)


Organisasi seperti (WHO) menyarankan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total kalori harian, bahkan lebih baik jika di bawah 5%. Itu kira-kira setara dengan ±25–50 gram per hari (sekitar 4–10 sendok teh, tergantung kebutuhan energi).


Yang sering jadi masalah bukan hanya gula pasir yang kita tambahkan sendiri, tapi juga:

  1. Minuman manis (teh manis, soda, kopi kekinian)
  2. Makanan olahan (kue, biskuit, saus, dll.)


Gula pasir aman dalam jumlah kecil, tapi jika berlebihan bisa berdampak buruk. Kuncinya bukan menghindari total, melainkan mengontrol konsumsi.


Daftar Pustaka

1. World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars intake for adults and children. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549028  

2. Te Morenga, L., Howatson, J., Jones, R., & Mann, J. (2012). Dietary sugars and body weight: Systematic review and meta-analyses of randomised controlled trials and cohort studies. BMJ, 344, d7492. https://doi.org/10.1136/bmj.d7492  

3. Malik, V. S., Popkin, B. M., Bray, G. A., Després, J.-P., & Hu, F. B. (2010). Sugar-sweetened beverages and risk of metabolic syndrome and type 2 diabetes: A meta-analysis. Diabetes Care, 33(11), 2477–2483. https://doi.org/10.2337/dc10-1079  

4. Johnson, R. K., Appel, L. J., Brands, M., Howard, B. V., Lefevre, M., Lustig, R. H., ... & Wylie-Rosett, J. (2009). Dietary sugars intake and cardiovascular health: A scientific statement from the American Heart Association. Circulation, 120(11), 1011–1020. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.109.192627  

5. Moynihan, P. J., & Kelly, S. A. M. (2014). Effect on caries of restricting sugars intake: Systematic review to inform WHO guidelines. Journal of Dental Research, 93(1), 8–18. https://doi.org/10.1177/0022034513508954  

6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Gizi Seimbang. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. https://giziseimbang.kemkes.go.id/

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama