NU Bontang

Khutbah Jumat: Mengubah orientasi duniawi menjadi ukhrowi


 

Khutbah I


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ 
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ:

وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ‌ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَاۖ 


Maasyiral Muslimin rahimakumullah.

Orientasi sejati dari kebidupan yang kita jalani saat ini adalah akhirat. Bukan sesuatu yang ada di masa lima, sepuluh atau lima belas tahun mendatang, melainkan lebih jauh dari itu. Namun pada kenyataannya, kebanyakan kita justru hanya berfokus pada orientasi duniawi. Mari kita lihat dan renungkan bersama. Saat masih duduk di bangku sekolah, kita akan berpikir bagaimana ketika lulus dan bisa mendapatkan pekerjaan. Saat masih lajang, kita akan berpikir bagaimana kelak menikah dan berkeluarga. Usai menikah, kita akan berpikir bagaimana ketika kelak memiliki anak dan mempersiapkan segala kebutuhan masa depannya. Bahkan saat usia sudah menua, masa purna kerja telah dekat, kita masih disibukkan dengan pikiran untuk mempersiapkan bagaiamana persiapan kita secara materi ketika pensiun tidak lagi kekurangan. Usia tua, yang seharusnya kita manfaatkan dan berfokus pada tujuan akhirat, kita masih disibukkan dengan perkara-perkara dunia. 


Maasyiral Muslimin rahimakumullah.

Hal-hal seperti inilah yang kerap kita sebut sebagai masa depan. Hal-hal seperti inilah yang kerap kita sebut sebagai planning jangka panjang. Perkara yang berbau duniawi, kebanyak kita akan sangat serius mempersiapkan segala kebutuhunnya. Padahal, masa depan sejati adalah bagaimana kita menghadapi kehidupan setelah kematian. Bekal menuju kesanalah yang akan menjadi bekal sebenarnya. Apa yang kita cari dengan tujuan dunia, paling lama akan kita nikmati tujuh puluh sampai dengan delapan puluh tahun saja. Sebanyak apapun bekal yang kita miliki di dunia. Harta melimpah, rumah megah, kendaraan yang mewah, saat kita mati akan menjadi hak yang lainnya. Menjadi anak-anak kita, menjadi hak istri-istri kita. 


Memang benar, manusia tak dapat lepas dari urusan duniawi. Karena di dunia inilah kita dilahirkan, di dunia ini kita hidup dan dunia adalah tempat kita menanam untuk bekal akhirat kelak. Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia akan kita petik buahnya kelak di akhirat. Silahkan kita berorientasi pada duniawi, namun jangan berhenti sampai disitu. Karena jalan panjang sedang menanti kita di depan, yakni jalan menuju negeri akhirat. Negeri abadi, negeri yang tak berkesudahan dan disanalah sebagai titik penentu dan tempat pembalasan segala sesuatu yang pernah kita lakukan di dunia ini. Allah SWT berfirman dalam surah al-Qashash ayat 77:


وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ‌ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَاۖ 


Artinya: "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)




Mari kita simak bersama tafsir Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat ini:


أَيْ : اسْتَعْمِلْ مَا وَهَبَكَ اللَّهُ مِنْ هَذَا الْمَالِ الْجَزِيلِ وَالنِّعْمَةِ الطَّائِلَةِ، فِي طَاعَةِ رَبِّكَ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ، الَّتِي يَحْصُلُ لَكَ بِهَا الثَّوَابُ فِي الدَّارِ الآخِرَةِ


Artinya: "Gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat."


Harta adalah wujud bagian dari karunia Allah SWT. Jika harta yang kita miliki hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan fisik saja. Seperti untuk makan, minum, membeli pakaian, dan pemenuhun kebutuhan jasmani, maka harta yang kita miliki hanya berhenti pada orientasi duniawi. Yang manfaatnya hanya kita rasakan di dunia saja. Manfaatnya itu pun tidak lama. Tetapi jika harta yang kita miliki kita gunakan untuk infaq, sedekah atau di-tasharruf-kan kepada hal-hal yang memberikan asas manfaat bagi yang lain, orientasi harta kita tidak berhenti menjadi orientasi duniawi saja melainkan berorientasi kepada hal-hal yang lebih jauh lagi Yakni orientasi akhirat. Dalam surah al-Munafiqun Allah SWT berfirman:


وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ


Artinya: "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)


Maasyiral Muslimin rahimakumullah.

Ini merupakan peringatan dari Allah SWT, ketika nasi telah menjadi bubur, masing-masing dari kita akan dihinggapi rasa penyesalan. Namun ketika saati itu tiba, penyesalan akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Dimana ketika raga tak lagi bernyawa, jasad tak lagi dapat beramal dan penyesalan pun akan hanya jadi penyesalan. Saat ini, dimana Allah SWT masih memberikan kita kesempatan untuk bernafas, kesempatan untuk bekerja dan menjalani kehidupan disaat ini jugalah kesempatan kita untuk beramal, memanfaatkan harta yang kita miliki untuk berjuang di jalan Allah, untuk berinfaq dan di-tasharruf-kan kepada hal-hal yang bermanfaat. Agar harta yang kita miliki tidak berhenti pada orientasi di dunia, tetapi juga untuk bekal di akhirat kelak.


Maasyiral Muslimin rahimakumullah.

Pun demikian dengan tahta, kedudukan, pangkat maupun jabatan. Semua itu adalah juga bagian dari karunia yang diberikan Allah SWT. Seyogyanya pangkat maupun jabatan yang diamahkan kepada kita, haruslah dapat memberikan manfaat untuk orang lain. Jika kita pangkat maupun jabatan hanya untuk gensi, pamor, hanya untuk meningkat strata sosial atau hanya agar memperoleh gaji yang tinggi, maka tahta, kedudukan, pangkat maupun jabatan adalah sesuatu yang berorientasi hanya untuk dunia saja, tidak ada efek dimensinya untuk akhirat. Namun jika karena kedudukan, pangkat maupun jabatan yang diamanahkan kepada kita, kemudian dengan ini kita bisa memberi manfaat untuk orang lain, banyak manusia yang merasa terbantu, maka jabatan itu tidak hanya menjadi orientasi dunia, melainkan juga untuk akhirat. Rasulullah SAW pernah berdoa:


اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (رواه مسلم عن عائشة)


Artinya: “Ya Allah, barangsiapa yang menguasai suatu urusan dari umatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan barangsiapa yang menguasai suatu urusan dari umatku, lalu dia bersilap lemah lembut (mempermudah urusannya), maka mudahkanlah baginya”. (HR. Muslim dari Aisyah).


Maasyiral Muslimin rahimakumullah.

Memanfaatkan karunia yang diberikan Allah SWT kepada kita untuk jalan kebaikan adalah lebih tentu baik. Jangan mengehentikannya hanya untuk perkara yang bersifat duniawi saja, karena sesungguhnya akhirat adalah lebih utama. Mempunyai kelebihan harta, gunakan sebahagian untuk beramal, memiliki kedudukan, pangkat maupun jabatan, gunakan untuk membantu orang lain. Seseorang tidak di ukur seberapa kaya dia, seseorang tidak di ukur seberapa berpengaruh dia, tetapi ukuran seseorang adalah seberapa manfaat hidupnya untuk orang lain. Jika harta, pangkat maupun jabatan yang kita miliki tidak bermanfaat untuk yang lain, sejatinya itu semua adalah sia-sia. Mari kita gunakan segala karunia yang Allah SWT berikan kepada kita untuk saling membantu kepada sesama. Agar semua karunia itu tidak berhenti pada orientsai dunia semata melainkan juga orientasi akhirat.   

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ  

Khutbah II


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


versi pdf ilahkan download di sini


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama