Pada Ahad malam, 15 Maret 2026 bertepatan dengan malam ke-26 Ramadhan 1447 H, Ketua LDNU Bontang Ustadz Jeihan Fiqi Yudhistira, Lc., M. Sosio., menyampaikan kultum pra Tarawih di . Kegiatan tersebut dihadiri oleh jamaah dari lingkungan BTN KCY dan sekitarnya yang memenuhi masjid menjelang pelaksanaan salat Tarawih.
Dalam kultumnya, Ustadz Jeihan menjelaskan tentang pentingnya pemahaman (Aswaja) sebagai pondasi peradaban Islam. Ia menegaskan bahwa para ulama dalam tradisi Aswaja selalu mampu menyesuaikan metode dakwah dan penjelasan hukum Islam dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar syariat.
Menurutnya, fleksibilitas dalam penjelasan hukum ini justru menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan Islam yang terus hidup dan relevan sepanjang masa. Para ulama, kata dia, tidak hanya menjaga teks-teks agama, tetapi juga memastikan pemahamannya tetap sesuai dengan kebutuhan umat di berbagai situasi dan perkembangan zaman.
Sebagai contoh yang mudah dipahami masyarakat, Ustadz Jeihan menjelaskan tentang konversi ukuran zakat fitrah. Ia menerangkan bahwa ukuran satu sho’ pada masa Nabi dahulu diukur menggunakan dua telapak tangan yang ditangkupkan berulang kali hingga mencapai takaran tertentu. Dalam praktiknya saat ini, ukuran tersebut dikonversi menjadi sekitar tiga liter bahan makanan pokok.
Dari ukuran volume tersebut, kemudian para ulama melakukan konversi lagi ke dalam ukuran berat yang lazim digunakan masyarakat saat ini, yaitu sekitar 2,5 kilogram beras. Selanjutnya, untuk memudahkan masyarakat yang ingin menunaikan zakat dalam bentuk uang, nilai tersebut juga dapat dikonversikan menjadi kisaran harga beras yang setara, misalnya sekitar Rp70.000 per jiwa.
Ia juga menyinggung tentang zakat harta yang perhitungannya mengikuti tahun syamsiyah atau kalender masehi, seperti yang sering digunakan oleh perusahaan. Dalam kondisi tersebut, zakat tidak lagi dihitung 2,5 persen, tetapi ditambah sekitar 0,07 persen sehingga menjadi 2,57 persen, sebagai penyesuaian terhadap perbedaan jumlah hari antara tahun hijriah dan masehi.
Selain itu, Ustadz Jeihan mengingatkan jamaah tentang janji Allah dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan menjaga kemurnian Al-Qur’an sepanjang zaman. Menurutnya, salah satu bentuk penjagaan tersebut adalah dengan terus dilahirkannya para ulama di setiap generasi dan di berbagai cabang ilmu yang menjaga pemahaman Al-Qur’an agar tetap benar dan tidak menyimpang.
Pada malam itu, suasana masjid tampak khusyuk dan penuh kekhidmatan. Jamaah yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, pemuda hingga anak-anak, duduk rapi menyimak setiap pesan yang disampaikan dalam kultum tersebut. Antusiasme jamaah juga terlihat dari penuhnya ruang utama hingga sebagian serambi masjid.
Kultum pra Tarawih tersebut berlangsung sekitar 10 menit dan setelah selesai jamaah langsung bersiap melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah. Kegiatan kultum Ramadhan di Masjid Jami’ Baiturrahim BTN KCY sendiri rutin dilaksanakan setiap malam selama bulan suci Ramadhan sebagai sarana memperkuat keimanan dan memperdalam pemahaman keagamaan masyarakat.


Posting Komentar