Dalam hiruk-pikuk kehidupan korporat, nilai-nilai kemanusiaan seringkali tenggelam oleh target dan pencapaian material. Namun, ada sebuah institusi di Kalimantan Timur yang dengan teguh memelihara sebuah tradisi penuh makna: Yayasan Pupuk Kaltim (YPK). Setiap tahun, dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahunnya, YPK tidak hanya merayakan kemajuan dan prestasi, tetapi juga meluangkan waktu khusus untuk mengenang dan mendoakan para mantan guru dan karyawan yang telah berpulang. Ritual tahunan ini—berupa doa bersama dan ziarah kubur—bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah bukti nyata bahwa ikatan kekeluargaan di YPK melampaui batas duniawi, membawa kebahagiaan tersendiri bagi para almarhum/almarhumah.
Bayangkan kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang mantan guru yang telah mendedikasikan separuh hidupnya mengajar di sekolah binaan YPK. Atau seorang karyawan administrasi yang setia menjaga roda organisasi. Ketika mereka telah tiada, nama dan jasa mereka tidak serta-merta hilang dari ingatan institusi. Setiap HUT, dengan penuh khidmat, segenap keluarga besar YPK yang masih aktif berkarya mengheningkan cipta, melantunkan doa, dan mengunjungi peristirahatan terakhir mereka. Dalam tradisi ini, tersirat pesan yang dalam: “Kami masih mengingatmu. Kontribusimu tetap berharga. Tempatmu dalam keluarga besar YPK tetap terjaga.”
Kebahagiaan yang dimaksud di sini tentu bersifat spiritual dan metaforis. Ia adalah kebahagiaan yang diyakini dirasakan oleh sang mendiang, karena dilindungi oleh doa-doa tulus dari rekan seperjuangan dan penerus mereka. Ia juga merupakan kebahagiaan bagi keluarga yang ditinggalkan, yang melihat bahwa institusi tempat orang tua, suami, istri, atau anak mereka dahulu bekerja, masih menunjukkan kepedulian dan penghargaan yang tulus, bahkan setelah bertahun-tahun mereka wafat.
Program mendoakan dan ziarah kubur ini memiliki dampak yang kuat bagi kultur organisasi YPK. Bagi karyawan aktif, tradisi ini menjadi pengingat bahwa mereka adalah bagian dari sebuah sejarah panjang, sebuah rantai perjuangan yang dibangun oleh banyak orang sebelumnya. Ini menanamkan rasa hormat, kesetiaan, dan perspektif bahwa bekerja bukan semata untuk gaji, tetapi untuk meninggalkan warisan yang akan dikenang. Nilai-nilai seperti loyalty (kesetiaan), respect (hormat), dan sense of belonging (rasa memiliki) hidup dan dipraktikkan secara nyata, tidak hanya tertulis di dinding atau handbook perusahaan.
Pelaksanaan yang Terstruktur dan Penuh Makna
Bukti konkret dari komitmen ini terlihat dalam pelaksanaan acara pada HUT ke-43 YPK, Jumat, 23 Januari 2026. Acara dimulai dengan “Doa Bersama & Charity Day” di Aula Yayasan Pupuk Kaltim pukul 13.30 WITA, yang mengusung semangat “Mari kita satukan doa, berbagi kebaikan, dan mengenang jasa”. Acara inti kemudian dilanjutkan dengan ziarah kubur yang dilaksanakan secara sangat terstruktur dan terjangkau. Tim YPK terbagi berdasarkan unit kerja mereka mengunjungi empat pemakaman berbeda di sekitar Bontang: Pemakaman Pisangan (dijadwalkan untuk keluarga SMA), Lempake (SMP & TK), Bontang Kuala (SD 2 & SLB), dan KM. 4 (SD 1 & Kantor). Setiap lokasi memiliki penanggung jawab (PJ) yang memimpin doa, memastikan setiap makam dikunjungi dengan khidmat.
Mengenali Nama, Melestarikan Kenangan
Yang paling mengharukan dari tradisi ini adalah keberadaan daftar nama yang disusun dengan rapi. Daftar tersebut bukanlah sekadar catatan administratif, melainkan sebuah monumen ingatan yang hidup. Di Pemakaman Lempake, nama-nama seperti Agus Anshori, Symponi Andri, Sugeng Riyanto, hingga Gatot Purwoto tertoreh. Di Bontang Kuala, terdapat nama M. Sabitah, Sri Mulyani (guru TK), dan Muslimin. Pemakaman Pisangan mengenang Tekad, Najamudin, dan Prastawa, sementara di KM. 4 ada nama Heru Subroto dan Arlim. Setiap nama yang tercantum mewakili sebuah kisah, dedikasi, dan bagian dari mozaik besar sejarah YPK. Dengan menyebut nama-nama mereka secara spesifik, YPK menegaskan bahwa setiap individu adalah penting dan tidak terlupakan.
Sebuah Warisan Budaya Organisasi
Di era di mana loyalitas kerja yang semakin rendah dan hubungan industrial yang seringkali transaksional, tradisi YPK ini bagai oase. Ia menunjukkan bahwa sebuah yayasan atau perusahaan bisa menjadi “rumah” kedua yang hangat. Kebahagiaan mantan karyawan yang telah wafat itu, pada hakikatnya, adalah cermin dari kebahagiaan dan ketenteraman yang dirasakan oleh seluruh keluarga besar YPK—yang masih hidup maupun yang telah mendahului. Mereka bahagia karena dikenang, dihargai, dan didoakan.
Pada akhirnya, HUT YPK bukan hanya soal angka tahun dan pencapaian materi. Lebih dari itu, ia adalah momen refleksi dan penghormatan kepada setiap tangan yang pernah turut membangun. Dengan menjaga tradisi doa dan ziarah yang terencana dan penuh detail ini, YPK tidak hanya membangun sekolah dan fasilitas, tetapi juga membangun peradaban organisasi yang berhati nurani. Dan dalam sanubari setiap insan YPK, baik yang masih aktif maupun yang telah berpulang, terdapat kebahagiaan sejati: kebahagiaan karena menjadi bagian dari sebuah keluarga yang mengingat, dengan menyebut nama mereka satu per satu, bahkan hingga ke liang kubur.
Dalil yang Menganjurkan Ziarah Kubur
1. Hadits Riwayat Muslim (977) dan Tirmidzi (1054):
كُنتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
"Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah (karena ziarah kubur) mengingatkan kepada akhirat."
2. Hadits Riwayat Abu Dawud (3235) dan Tirmidzi (1055):
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ
"Berziarahlah ke kuburan, karena hal itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat."
3. Hadits Riwayat Ibnu Majah (1571) dengan sanad hasan:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، أَلا فَزُورُوهَا، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا
"Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, tetapi jangan mengucapkan perkataan kotor (di sana)."



Posting Komentar