NU Bontang

Khutbah Jum'at: Nisyfu Sya'ban dan Amalan-amalan yang dianjurkan didalamnya



Khutbah I


Maasyiral Muslimin rahimakumullah. 

Sya'ban, adalah bulan kedelapan dalam hitungan kalender hijriyah. Bulan ini banyak menjadi sorotan kaum muslimin, disamping kehadirannya menjadi tanda bahwa sebentar lagi masuk pada bulan mulia yaitu bulan Ramadhan, di dalam bulan Sya'ban ada momentum penting untuk diperhatikan. Apa momentum penting itu? Momentum pertama adalah ada adanya pelaporan amal selama satu tahun di dalam bulan Sya’ban. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam an Nasa'i: 

Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Wahai Rasulullah, saya tidak menjumpai engkau puasa di bulan-bulan yang lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban. Rasulullah menjawab :

"Sya'ban adalah bulan yang dilupakan orang-orang. Karena berada diantara bulan Rajab dan Ramadhan. Sya'ban adalah bulan yang didalamnya terdapat pelaporan amal kepada Allah, maka aku senang amalku dilaporkan sementara aku dalam kondisi puasa", (HR. Imam An-Nasa'i) Adapun mementum penting kedua adalah Allah SWT memberikan anugerah pengampunan kepada hamba-hambaNya, kecuali bagi orang yang menyekutukan Allah dan orangorang yang menebar kebencian antar sesama umat Islam. Sebagaimana Sabda nabi:

Artinya: "Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam pertengahan Sya'ban, kemudian Allah akan mengampuni hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan musahin (orang yang menebar kebencian antar sesama umat Islam). 

Maasyiral Muslimin rahimakumullah. 

Hadis ini menunjukkan bahwa malam nisyfu Sya'ban bukanlah sekedar malam biasa seperti malam-malam lainnya. Keutamaan lain malam nisyfu Sya'ban yang ditulis dalam kitab ma yuthlabu fi syahri sya'bani al-muadhom yang disusun oleh Syaikh Muhammad Amin ibn Idrus ibn Abdillah ibn Syaikh Abi Bakr ibn Salim disebutkkan dari Syaikh Abdul Qadir al- Jailaini, bahwa malam nisyfu Sya'ban adalah malam termulia setelah malam lailatul qadr.

 


Artinya: "Malam nisyfu Sya'ban adalah malam paling mulia setelah malam lailatul qadar". 

Karena keistimewaan inilah, ada tradisi-tradisi yang diamalkan oleh umat Islam, terkhusus adalah umat muslim di Nusantara ini. Amalan-amaln tersebut dilakukan tentu dengan harapan saat amal-amal kita diangkat dan dihadapkan kepada Allah Azza Wa Jalla, catatan amal kita tercatat sebagai amal perbuatan yang baik. Maasyiral Muslimin rahimakumullah. Diantara amalan-amalan yang biasa dilakukan oleh masyoritas muslim di Nusantara adalah sebagai berikut: membaca surat yasin sebanyak 3 kali. Bacaan surat yasin pertama, kita niatkan agar kita diberikan panjang umur dalam keadaan ta'at kepada Allah.



Bacaan surat yasin kedua, kita niatkan agar terhindar dari wabah penyakit, gangguan dan meminta keluasan rizki.

 

Bacaan surat yasin ketiga, kita niatkan agar terhindar dari ketergantungan kita pada manusia, diberikan kekayaan hati, dan diberi akhir husnul khotimah.

 


Kedua, adalah tradisi ziarah kubur. Budaya menyekar atau ziarah kubur baik dipertengahan bulan Sya'ban, akhir bulan Sya'ban atau awal bulan Ramadhan dan akhir saat bulan Ramadhan itu termasuk dari pelaksanaan terhadap anjuran secara umum untuk berziarah. Sebagaimana tersebut dalam hadis:

 

Artinya: "Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah". (HR. Muslim).

 Menentukan waktu-waktu tertentu yang dianggap sebagai moment yang tepat untuk berziarah kubur juga tidak dilarang. Hal ini pernah dicontohkan oleh Baginda Nabi, beliau pernah berziarah ke makam Baqi' pada malam nisyfu Sya'ban. Karena malam itu adalah malam yang mulia. 

Sayyidah Aisyah berkata: "Suatu ketika pada waktu giliranku nabi tidak berada disisiku, lalu aku keluar mencarinya, ternyata beliau ada di makam Baqi', sedang menengadah ke langit. Beliau berkata: "Apakah kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya berbuat sewenang-wenang kepadamu ? Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, aku mengira engkau mendatangi sebagian istri-istrimu." Lalu nabi bersabda : Sesungguhnya anugera Allah turun pada malam nisyfu Sya'ban ke langit dunia, dan Allah mengampuni orang-orang yang jumlahnya melebihi jumlah bulu-bulu kambing suku kalb (sangat banyak). (HR. Imam Ahmad, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah) 

Ketiga, tradisi megengan atau berbagi makanan kepada faqirmiskin, tetangga, kerabat, ataupun teman-teman dekat. Tradisi megengan ini merupakan pengamalan terhadap anjuran Nabi Muhammad SAW untuk bersedekah makanan kepada orang lain. Sebagaimana dalam hadis nabi yang berbunyi:

Artinya: " Dari Abu Dzar, ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, dan berbagilah kepada tetanggamu." (HR. Muslim)

 Maasyiral Muslimin rahimakumullah. 

Hadis ini berisi anjuran dalam bersedekah dengan sesuatu yang sederhana. Sedekah bisa berwujud kuah, bubur, nasi kuning, atau apem seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat pada saat menjelang Ramadhan. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Makah dan Madinah bersedekah roti, susu, atau 'ashir (sari buah) pada musim haji secara tetap saban tahun. 

Perbuatan ini juga merupakan kebiasaan ulama salaf dari kalangan tabi'in. Mereka senantiasa memberi hadiah (berupa makanan atau yang lainnya) kepada sahabatnya, walaupun orang yang diberi bukanlah orang yang kekurangan. Maasyiral Muslimin rahimakumullah. Para ulama selalu menganjurkan bersedah sepanjang waktu, terkhusus pada waktu-waktu yang penting. Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab:

Artinya: “Para ulama’ syafi’iyyah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak sedekah ketika menghadapi urusan-urusan penting”. 

Al-Hafidz ibn Rajab al-Hanbali berkata: “Karena Sya’ban itu merupakan persiapan menghadapi Ramadhan, maka semua amaliah yang dianjurkan dikerjakan pada bulan Ramadhan juga dianjurkan untuk diamalkan di bulan Sya’ban, seperti puasa dan membaca Al-Qur’an. Tujuannya adalah agar jiwa benar-benar siap untuk menghadapi bulan Ramadhan. (Latha’if al-Ma’rifah). 

Maasyiral Muslimin rahimakumullah.

 Itulah beberapa tradisi umat muslim, terkhusus umat Islam di Nusantara ini saat memasuki bulan Sya’ban, lebih khususnya pada malam nisyfu Sya’ban. Kesemuanya itu tidak lain adalah pengamalan ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diterjemahkan melalui tradisi-tradisi yang ada.


Khutbah II


Khutbah jumat di atas dapat didownload di sini

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama