NU Bontang

Lika Liku Perjalanan Menuntut Ilmu hingga Negeri Ratu Elizabeth

Semasa SMA, saya pernah bermimpi untuk belajar di luar negeri. Namun, mimpi itu perlahan tergerus dikarenakan ketidakpercayaan diri saya dalam berbahasa asing, ditambah lagi biaya kuliah yang tidak murah tentunya menjadi concern utama saya untuk bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri. Hingga akhirnya saya pun memutuskan untuk melupakan mimpi saya dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi dalam negeri, tepatnya di Teknik Industri, Universitas Indonesia. Seiring berjalannya waktu perkuliahan, saya mendapatkan banyak insight seputar student exchange dan study abroad, baik dari kakak tingkat maupun pihak Departemen. Hal ini membuat cita-cita saya untuk belajar ke luar negeri kembali terbentuk. Saya pun mulai mencari-cari informasi terkait student exchange di tahun ketiga perkuliahan saya.



Di tengah-tengah pencarian saya memilih universitas tujuan, saya mendapatkan informasi bahwa Kemdikbud baru saja membuka program kegiatan pembelajaran di kampus merdeka, salah satunya adalah IISMA (Indonesian International Mobility Awards), yang memberikan kesempatan mahasiswa-mahasiswi S1 di seluruh Indonesia untuk mengikuti study abroad di 60 perguruan tinggi mitra luar negeri yang ada di berbagai benua.

Program ini memberikan pendanaan yang mencakup beberapa hal sebagai berikut:

  1. Uang pendaftaran dan SPP (at cost) yang akan dibayarkan langsung ke perguruan tinggi mitra luar negeri;
  2. Biaya perjalanan berupa tiket pesawat pulang pergi kelas ekonomi dari kota asal di Indonesia ke kota tujuan belajar (at cost);
  3. Biaya hidup bulanan di negara tujuan belajar sesuai ketentuan Kemdikbud;
  4. Asuransi kesehatan selama mengikuti program pertukaran mahasiswa luar negeri;
  5. Biaya tes PCR sebelum berangkat ke negara tujuan dan saat akan kembali ke Indonesia jika diperlukan;
  6. Biaya penerbitan visa negara tujuan; dan
  7. Biaya bantuan keadaan darurat mahasiswa secara kolektif.

Adanya informasi tersebut membuat saya kembali bersemangat untuk mencari informasi lebih lanjut terkait program IISMA melalui Kantor Urusan Internasional UI dan mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi. Pada awal bulan Mei 2021, saya mengikuti seleksi tahap pertama, yaitu seleksi berkas yang terdiri dari beberapa komponen, di antaranya esai singkat, english proficiency test, transkrip nilai, sertifikat pengalaman organisasi, serta surat rekomendasi dari Universitas asal. Di tahap ini, saya diharuskan memilih 1 universitas mitra yang akan menjadi tujuan saya, juga memilih 3-4 mata kuliah dari 10 mata kuliah yang ditawarkan perguruan tinggi mitra luar negeri. Setelah melakukan riset singkat terkait pilihan universitas-universitas yang tersedia, saya memantapkan hati untuk memilih Newcastle University sebagai universitas tujuan saya dikarenakan ketertarikan saya terhadap mata kuliah yang ditawarkan. Berikut adalah pilihan mata kuliah saya:

  1. Global Business Environment
  2. Sustainable Solutions
  3. Comparing Cultures
  4. Ecology and Conservation

Satu hal yang menarik dari program IISMA adalah para pendaftarnya diminta untuk memilih mata kuliah yang non-linier dengan jurusan di universitas asal. Oleh karena itu, pilihan mata kuliah saya tidak berhubungan dengan Teknik industri, tetapi tetap sesuai dengan bidang-bidang yang menjadi minat saya. Setelah melewati seleksi berkas, proses seleksi dilanjutkan dengan tahap interview yang dilakukan oleh panitia IISMA (bukan oleh universitas mitra). Proses ini berlangsung sekitar 10-15 menit dan dilakukan dengan bahasa Inggris. Interviewee melontarkan pertanyaan lanjutan yang lebih mendalam seputar esai yang telah dibuat pada tahapan seleksi berkas. Proses ini juga menandai berakhirnya tahapan seleksi IISMA.


Pada 13 Juni 2021, pengumuman terkait kelolosan IISMA pun dikabarkan melalui laman https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/. Segala puji bagi Allah, saya menjadi salah satu dari delapan mahasiswa yang berkesempatan melanjutkan 1 semester perkuliahan di Newcastle University, United Kingdom, untuk keberangkatan September 2021. Selama rentang waktu Juni hingga Agustus, saya mulai mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk keperluan keberangkatan, seperti Paspor, Visa, Letter of Acceptance, dan juga keperluan pribadi. Walaupun pengurusan visa sempat terhambat oleh PPKM dan masuknya Indonesia ke dalam Red List Countries United Kingdom, namun akhirnya di tanggal 8 September 2021 saya berhasil berangkat menuju London dan menjalani karantina selama 10 hari di sana. Setelah itu, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Newcastle.


Tak terasa, saat ini saya sudah menginjakkan kaki di Newcastle dan merasakan bangku perkuliahan selama tiga minggu terakhir. Adanya culture shock sudah pasti saya rasakan, namun hal tersebut justru menjadi tantangan baru bagi saya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Salah satu hal menarik yang saya temukan selama di sini yaitu penggunaan Geordie accent, yang menjadi dialek khas orang-orang Newcastle. Aksen ini terdengar lucu, namun tentu saja sulit untuk dipahami oleh saya yang bukan seorang native speaker. Selain itu, apabila ditinjau dari sisi pendidikannya, sistem perkuliahan di United Kingdom juga cukup berbeda dengan Indonesia. Di Newcastle University, saya diharuskan untuk mengikuti berbagai jenis perkuliahan, tidak hanya mendengarkan materi oleh dosen, tetapi juga mengikuti seminar dan tutorial yang terdiri atas sekelompok kecil mahasiswa untuk kemudian berdiskusi bersama terkait bahan bacaan yang sebelumnya telah diberikan oleh dosen. Hal ini tentu saja membantu saya meningkatkan kepercayaan diri dalam memberikan pendapat atau argumen, sekaligus membuka kesempatan untuk berkenalan lebih dekat dengan mahasiswa lokal maupun internasional lainnya.


Itulah sedikit cerita perjalanan saya dalam mencapai tujuan yang sempat tertunda. Bagi teman-teman yang memiliki rencana yang sama, jangan lupa untuk mempersiapkan diri mulai sekarang dan tetap semangat dalam berproses serta berprogress!


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama