NU Bontang

Saat KH Makruf Khozin dalam Kondisi Tersulit

 



Sekitar tahun 2007-2008 adalah masa tersulit yang saya alami, adik ipar wafat, keuangan keluarga sudah tak tersisa, punya 2 anak, dan di saat bersamaan saya harus tetap kuliah di Unsuri, di Waru.


Uang 5000 menjadi bekal berangkat kuliah malam, 2500 untuk bensin motor, sisanya bisa buat kopi atau bakso. Tatkala Presiden SBY menaikan harga bensin menjadi 5000 maka habis sudah uang jajan saya.


Tapi saya harus tetap kuliah. Jam 9 malam selesai kuliah, saya bergabung dengan teman-teman kuliah, ngopi dan makan bakso. Saya nekat makan meskipun tidak punya uang. Selesai makan saya pura-pura dermawan sambil memasukkan tangan ke kantong: "Habis berapa semua? Ini saya bayari". Adalah Ust Sultoni ini yang selalu bilang: "Sudah Ustaz, saya yang bayar". Andaikan beliau bilang "Ayo keluarkan isi kantongnya", mungkin yang saya keluarkan adalah SIM sebagai jaminan agar bisa pulang ke rumah.


Kejadian itu tidak hanya sekali dua kali, hampir setiap malam. Makanya saya selalu ingat kepada para sahabat saya yang banyak membantu di masa-masa sulit. Saya pun berusaha 'membayar budi' semampu saya.


Benar kiranya syair yang dinisbatkan kepada Sahabat Hassan bin Tsabit dalam Bahr Wafir berikut:


أخلاءُ الرخاءِ همُ كثيرٌ  •  وَلكنْ في البَلاءِ هُمُ قَلِيل

Sahabat di saat kaya banyak jumlahnya. Namun di saat banyak ujian mereka sedikit


فلا يغرركَ خلة من تؤاخي  •  فما لك عندَ نائبَة خليل

Jangan tertipu dengan pengakuan orang yang mengaku saudaramu, di saat ada musibah tak satupun yang menemanimu


وكُلُّ أخٍ يقول : أنا وَفيٌّ  •  ولكنْ ليسَ يفعَلُ ما يَقُول

Semua orang yang mengaku saudara akan berkata: "Aku penuhi janji", tetapi dia tidak melakukan perkataannya


سوى خل لهُ حسب ودين  •  فذاكَ لما يقولُ هو الفعول

Kecuali sahabat yang memiliki kemuliaan dan agamis. Dialah yang sesuai antara perkataan dan perbuatan.


Oleh: KH. Makruf  Khozin

Ketua MUI Bidang Fatwa Jawa Timur

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama