NU Bontang

Generasi Alpha, Siapa Yang Menciptakan?

sumber: www.ardasitepu.com

Oleh : Guru Liem

(Ketua LTN-NU Bontang)


Banyak dari kita yang mengeluh-kesahkan tingkah generasi milenial. Kemudian membandingkan bagaimana gaya hidup dengan generasi Y (kelahiran 1980-1994) dengan generasi Z (1995-2010) atau era Alpha. Namun disadari atau tidak, perbandingan itu tak lepas dari hanya sekedar perbandingan yang sama sekali tidak menyuguhkan sebuah solusi. Bocah sekarang tidak seperti zaman kita dulu, bocah sekarang begini dan begini, zaman kita dulu begini dan begitu. Narasi itu terus berkembang. Salah satu contoh kongkret adalah maraknya penggunaan gadget oleh remaja era Z dan Alpha (kelahiran 2011 keatas) sekarang yang tanpa kontrol. Namun lagi-lagi kritik itu tidak kita dampingi dengan solusi. Lantas siapa yang akan dipersalahkan ?


Sumber: www.jokogunawan.com


Menyoal penggunaan gadget yang berlebihan tentu sudah banyak yang mengeluhkan soal ini, namun dari sekian banyak keluhan yang ada, apakah berbanding dengan solusi yang ditawarkan ? Tentu perbandingannya tidaklah signifikan. Bahkan, nampaknya belum ada win-win solutions yang pas untuk diterapkan. Ini juga menjadi permasalah baru yang harus dipecahkan. Sebelum membahas ini lebih jauh, lebih elok jika pembahasannya kita awali dengan penyebab kenapa masalah ini bisa seperti ini. 


Tidak ada yang lebih patut dipersalahkan dalam masalah ini kecuali orangtua. Karena kontrol orangtua sangat  berpengaruh terhadap kebiasaan yang dilakukan oleh anak. Candu yang dimiliki oleh generasi alpha terhadap penggunaan gadget tidak lain karena longgarnya aturan atau longgarnya pengawasan dari orangtua, generasi alpha banyak dimanjakan oleh alat serba bisa tersebut. Alhasil, hal seperti ini akan semakin menguatkan candu mereka. 


Sebuah contoh, kebanyakan dari generasi Z yang memiliki idealis besar untuk menjadikan anaknya sebagai seorang penghafal Al-Qur'an. Ia akan memanfaatkan Gadget sebagai media edukasi untuk si anak. Saking pengennya, dari anak masih dalam rahim ibunya ia sudah diberikan pembekalan Al-Qur'an melalui mp3 murottal yang ada di HP, setelah anak lahir ia terus diperdengarkan murottal mp3 melalui hp. Karena seringnya melihat dan mendengar suara yang bersumber dari gadget, di sadari atau tidak, dari sini sebenarnya anda sebagai orangtua sudah mulai mengenalkan  dalam alam bawah sadar si anak tentang alat ini. Mereka merekam, andai mereka bisa bicara mungkin mereka akan berbicara,"apa sih itu ? Kog ayah-ibuku sering membunyikannya disampingku". Belum lagi saat mereka melihat aktifitas orangtuanya menggunakan gadget sebagai alat komunikasi atau sarana jual-beli. Semakin kuat di alam bawah sadar mereka bahwa alat tersebut memang benar-benar penting dalam kehidupan manusia. 


Memiliki idelisme seperti diatas memang merupakan hal positif, namun penggunaan gadget bukan menjadi hal tepat sebagai media edukasi untuk anak yang baru mengenal dunia. Jika memang ingin meng-edukasi anak melalui audio ataupun visual, maka memilih media yang tepat juga tak kalah penting. Saran sebagai alternatif adalah gunakan media audio-visual yang standar. Tidak seperti gadget yang memiliki multi-fungsi, sehingga membuat anak memiliki ketertatikan yang kuat untuk lebih mengenal alat canggih tersebut. Alat standar itu juga banyak tersedia. Seperti sound yang khusus memutar mp3, atau alat yang diciptakan khusus yang bisa memutar suara-suara tertentu. Boneka hafidz misal, atau sound-sound kecil yang dapat dikonektivitaskan langsung dengan mp3. 


Hal kedua, gadget dijadikan sebagai alat pembungkam. Hal ini kerap dilalukan orangtua saat melihat anaknya riweh atau rewel. Karena ketidak-sabaran orangtua, si anak langsung di todong dengan gadget. Mereka disuguhi suatu hal yang menarik dari gadget. Seperti game, video yang bersumber dari youtube, atau hal-hal menarik lain yang ada pada gadget. Hal ini emang bisa dijadikan sebagai senjata untuk menakhlukkan rewelnya anak. Namun yang perlu anda sadari, saat anak sudah mulai ada rasa ketertarikan atau candu pada alat canggig tersebut. Maka mereka akan memperalat kita sebagai orangtua, dimanapun mereka berada mereka akan berusaha merubah karakter mereka menjadi karakter yang manja, rewel, tidak bisa diam dan lain sebagainya. Tujuannya apa ? Mereka mengharap agar tingkah mereka akan dibungkam dengan gadget. 


Smart-phone juga sering digunakan sebagai media pembelajaran untuk anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Lagi-lagi jika kita tak pandai memilih media pembelajaran yang kita gunakan. Ia akan menjadi boomerang bagi kita. Internet memang memiliki banyak hal yang positif, namun fasilitas ini ibarat dua mata pisau. Masing-masing memiliki dua sisi, antara sisi positif dan negatif. Bagi mereka yang kreatif, aktif dan positif. Sangat tepat menggunakan internet sebagai media. Baik sebagai media pembelajaran, media mengasah bakat, atau media perniagaan. Namun jika mereka belum siap untuk menggunakan internet dalam hal kreatifitas, aktifitas dan hal-hal yang positif. Internet akan dijadikan sebagai tempat bermain, mencari hiburan, dan alat berselancar yang tidak terbatas. 


Tunggu anak kita benar-benar siap, jika kita ingin mengenalkan media ini kepada mereka. Tentunya pengawasan orangtua harus benar-benar kuat. Agar anak yang kita ingin kenalkan kepada internet tidak bebas melenggang-kangkung menerobos batasan-batasan yang sebenarnya tidak boleh mereka akses. 


3 point diatas adalah salah satu penyebab kenapa generasi Alpha banyak yang memiliki candu akut pada gadget. Tugas kita sebagai orangtua adalah mencari sintesa dari tiga hal tersebut. 


Jika kita membandingkan bagaimana pola hidup generasi Y dan Z sungguh tidak-lah tepat. Karena beda zama  beda pula pola yang diberikan. Anak-anak generasi Y, belum mengenal istilah Gadget smart-phone, ataupun internet. Permainan yang mereka lakukan identik dengan permainan-permainan tradisional, sementara anak zaman sekarang hampir tidak kita temukan mereka bermain dengan media tradisional seperti yoyo, gobak sodor, egrang, dan permainan tradisional lainnya. 


Apakah mereka salah ? Tidak, mereka sebenarnya hanyalah objek. Tergantung bagaimana subjek memperlakukan mereka. Kalau kita tidak pernah mengenalkan permainan-permainan yang pernah membuat kita asyik sampai lupa waktu di zaman kita dulu, lantas mereka akan mengenal itu dari siapa ?

Kontributor: Miftahul Alim
Editor: Mohammad Bahri

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama