Masih tentang New Normal. Belajar dari pengalaman lalu, baik itu Stay at home atau Work form home. Nampaknya New Normal sesuai standar protokoler akan hanya berjalan beberapa minggu saja jika tanpa control yang tegas. Contoh konkret saja, himbauan untuk cuci tangan dengan teratur setelah beraktifitas. Hal ini hanya gencar dilakukan awal-awal saja saat momok pandemi sedang "seram-seramnya" di mata masyarakat. Setelah itu ? Ya biasa-biasa saja. 

Bagi para pemangku kebijakan sebagaimana pemerintah, memang sangat berat jika harus mengawasi setiap orang untuk harus menerapkan kebijakan yang include dalam tatanan New Normal di berbagai skup lapisan. Mungkin hanya beberapa hal saja yang bersifat paten dan layanan publik yang bisa dipertahankan. 

Pembukaan tempat ibadah dianjurkan tidak menggunakan karpet dan menjaga jarak antar saf, ini bisa dilakukan karena faktor sekali kerja dan bersifat publik. Tanpa menggunakan karpet sebagai alas untuk shalat sudah lama diterapkan. Karena hanya butuh sekali kerja. Karpet digulung, selesai urusan. Pembatasan jarak antar saf, ini juga masih bisa dilakukan, karena bersentuhan langsung dengan publik. Jika tidak melakukannya maka pelaku akan mendapatkan sanksi sosial atau teguran langsung dari masyarakat. Lalu bagaimana dengan hal-hal yang bersifat individual seperti cuci tangan, tidak pergi keluar kota tanpa urusan yang urgen, penggunaan masker dan beberapa kebijakan lainnya ?

Penerapan New Normal akan diterapkan dalam skala nasional, disini peran masyarakat sangat amat penting. Karena sekali lagi, terlalu berat jika harus bertumpu kepada pemerintah saja tanpa kerja sama yang baik dengan masyarakat. 
Jika dibahasakan, dalam memasuki New Normal ini, yang kita butuhkan adalah self control atau pengontrolan diri dari masing-masing individu, kembali kepada kesadaran individu. Atau bisa juga family control. Dimulai dari skup terkecil dalam bermasyarakat, yaitu keluarga. 

Untuk memulai New Normal, dapat kita terapkan dilingkup terkecil kita. Yaitu keluarga. Di lingkup ini, walaupun hal-hal tatanan dalam New Normal yang bersifat individu dapat kita terapkan bahkan dapat dilakukan secara "paksa". Sebagaimana penggunaan masker, cuci tangan dengan rutin, atau menahan diri tidak keluar kota terlebih dahulu.

Jepang adalah salah satu negara yang memiliki peradaban yang sangat apik, baik dari segi tatanan sosial, kultur, dan pola hidup. Karena masyarakat Jepang sangat menghargai tradisi nenek moyang mereka. Dan tradisi itu dijaga sebegitu kuat. Kenapa tradisi masyarakat Jepang bisa sangat kuat walaupun mereka sedang menghadapi dunia modern ? Karena penguatan tradisi mereka bukan hanya dilakukan di sektor pendidikan (sekolah) saja. Tetapi juga dikuatkan dari internalnya melalui keluarga.

Pendidikan pertama yang kita dapat adalah dari keluarga. Bahkan, dari skup inilah karakter seseorang bisa dibentuk sesuai dengan apa yang menjadi tradisi dalam keluarga. Kita bisa menghadapi New Normal, Indonesia bisa menghadapi New Normal, dan itu semua bisa dimulai dari skup terkecil, yaitu keluarga.

Miftahul Alim (Ketua LTN-NU Bontang)

New Normal dan Peran Keluarga


Masih tentang New Normal. Belajar dari pengalaman lalu, baik itu Stay at home atau Work form home. Nampaknya New Normal sesuai standar protokoler akan hanya berjalan beberapa minggu saja jika tanpa control yang tegas. Contoh konkret saja, himbauan untuk cuci tangan dengan teratur setelah beraktifitas. Hal ini hanya gencar dilakukan awal-awal saja saat momok pandemi sedang "seram-seramnya" di mata masyarakat. Setelah itu ? Ya biasa-biasa saja. 

Bagi para pemangku kebijakan sebagaimana pemerintah, memang sangat berat jika harus mengawasi setiap orang untuk harus menerapkan kebijakan yang include dalam tatanan New Normal di berbagai skup lapisan. Mungkin hanya beberapa hal saja yang bersifat paten dan layanan publik yang bisa dipertahankan. 

Pembukaan tempat ibadah dianjurkan tidak menggunakan karpet dan menjaga jarak antar saf, ini bisa dilakukan karena faktor sekali kerja dan bersifat publik. Tanpa menggunakan karpet sebagai alas untuk shalat sudah lama diterapkan. Karena hanya butuh sekali kerja. Karpet digulung, selesai urusan. Pembatasan jarak antar saf, ini juga masih bisa dilakukan, karena bersentuhan langsung dengan publik. Jika tidak melakukannya maka pelaku akan mendapatkan sanksi sosial atau teguran langsung dari masyarakat. Lalu bagaimana dengan hal-hal yang bersifat individual seperti cuci tangan, tidak pergi keluar kota tanpa urusan yang urgen, penggunaan masker dan beberapa kebijakan lainnya ?

Penerapan New Normal akan diterapkan dalam skala nasional, disini peran masyarakat sangat amat penting. Karena sekali lagi, terlalu berat jika harus bertumpu kepada pemerintah saja tanpa kerja sama yang baik dengan masyarakat. 
Jika dibahasakan, dalam memasuki New Normal ini, yang kita butuhkan adalah self control atau pengontrolan diri dari masing-masing individu, kembali kepada kesadaran individu. Atau bisa juga family control. Dimulai dari skup terkecil dalam bermasyarakat, yaitu keluarga. 

Untuk memulai New Normal, dapat kita terapkan dilingkup terkecil kita. Yaitu keluarga. Di lingkup ini, walaupun hal-hal tatanan dalam New Normal yang bersifat individu dapat kita terapkan bahkan dapat dilakukan secara "paksa". Sebagaimana penggunaan masker, cuci tangan dengan rutin, atau menahan diri tidak keluar kota terlebih dahulu.

Jepang adalah salah satu negara yang memiliki peradaban yang sangat apik, baik dari segi tatanan sosial, kultur, dan pola hidup. Karena masyarakat Jepang sangat menghargai tradisi nenek moyang mereka. Dan tradisi itu dijaga sebegitu kuat. Kenapa tradisi masyarakat Jepang bisa sangat kuat walaupun mereka sedang menghadapi dunia modern ? Karena penguatan tradisi mereka bukan hanya dilakukan di sektor pendidikan (sekolah) saja. Tetapi juga dikuatkan dari internalnya melalui keluarga.

Pendidikan pertama yang kita dapat adalah dari keluarga. Bahkan, dari skup inilah karakter seseorang bisa dibentuk sesuai dengan apa yang menjadi tradisi dalam keluarga. Kita bisa menghadapi New Normal, Indonesia bisa menghadapi New Normal, dan itu semua bisa dimulai dari skup terkecil, yaitu keluarga.

Miftahul Alim (Ketua LTN-NU Bontang)

Tidak ada komentar