Di Kota Bontang, yang hembusan anginnya merangkul hangat pesisir dan semangat pembangunan, sejak 2010 hiduplah seorang guru kimia sebut saja bernama Pak Rahman (bukan nama sebenarnya). Baginya, selama 16 tahun mengajar bukan sekadar memindahkan rumus dari papan tulis ke buku catatan. Setiap pagi, sebelum masuk kelas, ia selalu membaca doa pendek khas Nahdlatul Ulama (NU), organisasi yang membentuk cara pandangnya: ahlussunnah wal jamaah yang moderat, toleran, dan penuh kesejukan. Pak Rahman percaya, ilmu kimia dan nilai-nilai keislaman ala NU bisa berjalan beriringan, sama seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi.
Dalam setiap praktikum, Pak Rahman tanpa sadar mengajarkan Pancasila. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, ia tanamkan lewat kesadaran bahwa setiap partikel dan reaksi kimia adalah tanda kebesaran Tuhan. Sila kedua, kemanusiaan, ia wujudkan saat membimbing siswa yang kesulitan meracik larutan tanpa memarahi. Sila ketiga, persatuan, ia rawat dengan membaurkan murid-murid dari berbagai suku dan latar belakang dalam satu kelompok praktik. “Di lab ini, kita semua sama,” katanya sambil tersenyum. “Yang membedakan hanya ketekunan dan kejujuran.”
Sebagai warga NU, Pak Rahman juga membawa spirit tawassuth (jalan tengah) ke dalam kelas kimia. Ketika siswa gagal dalam titrasi asam-basa, ia tidak langsung memberi hukuman. “Mari kita cari letak kesalahannya,” ujarnya. “Ilmu itu proses, bukan lompatan.” Anak-anak Bontang yang lugu dan bersemangat itu perlahan belajar bahwa kimia sama seperti hidup: perlu keseimbangan, persis seperti prinsip NU yang menjauhi ekstrem kanan dan kiri.
Pancasila, baginya, bukan hanya hafalan di upacara bendera. Ia lihat dalam gotong royong membersihkan lab bersama, dalam musyawarah menentukan jadwal ujian praktik, dan dalam keadilan saat menilai laporan tanpa pilih kasih. Sila kelima, keadilan sosial, ia praktikkan dengan memberi perhatian ekstra pada anak dari keluarga tak mampu tanpa mempermalukan mereka.
Pak Rahman sadar, Bontang adalah kota istimewa yang terus bertumbuh. Modernisasi dan kemajuan kadang mengancam melunturkan nilai-nilai luhur. Namun setiap kali ia menuliskan reaksi kimia di papan tulis, ia juga menuliskan nilai-nilai Pancasila dan ajaran NU di hati murid-muridnya. Mungkin mereka akan lupa rumus molekul dan stoikiometri. Tapi semoga mereka ingat: bahwa seorang guru kimia di Bontang pernah mengajarkan kejujuran, toleransi, dan cinta tanah air melalui gelas beaker dan pipet tetes. Dengan cara itulah Pancasila hidup, NU merawat, dan guru kimia menjadi lentera di tengah gempuran zaman.
Selamat hari lahir Pancasila 1 Juni 2026. Majulah Bontangku, Jayalah Indonesiaku.

إرسال تعليق