NU Bontang

Menyadarkan Pentingnya Pap Smear: Menghindari Risiko Kanker Serviks



Sekali lagi, karena Kanker Serviks


Saya merasa sedih ketika mendengar kabar bahwa salah satu pasien Kanker Serviks yang pernah saya rawat dan rujuk telah meninggal dunia. Yang membuat saya prihatin, Kanker Serviks pada pasien ini baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut, sehingga penanganannya tidak bisa dilakukan secara optimal. Padahal, pasien ini masih relatif muda, sekitar 30 tahunan. Dia sangat sabar menghadapi vonis penyakitnya dan berusaha keras untuk sembuh. Kisah seperti ini seringkali terulang pada pasien lain.


Nyawa memang berada di tangan Allah, namun Kanker Serviks yang sangat ganas ini sebenarnya dapat dicegah dengan benar-benar efektif.


Banyak orang bertanya seberapa ganasnya Kanker Serviks ini? Jawabannya, sangat ganas! Bahkan, Kanker Serviks menjadi penyakit kanker nomor satu yang mematikan pada wanita.


Saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti, namun saya ingin menunjukkan fakta dari riset statistik tentang dampak Kanker Serviks. Setiap dua menit, satu wanita meninggal di dunia karena kanker ini, dan setiap jam di Indonesia, satu wanita juga meninggal akibat Kanker Serviks. Artinya, sekitar 700 wanita di dunia dan 24 wanita di Indonesia meninggal setiap harinya karena penyakit ini. Angka ini juga cenderung tetap menurut statistik.


Beberapa kasus Kanker Serviks baru ditemukan saat sudah memasuki stadium lanjut, yang membuat penanganannya menjadi sangat sulit dan memerlukan rujukan untuk Kemoterapi atau Radioterapi. Gejala pada stadium awal seringkali tidak terdeteksi dengan jelas. Keputihan abnormal dan perdarahan diluar siklus haid atau setelah hubungan seksual biasanya baru muncul pada stadium lanjut.


Meskipun begitu ganasnya, Kanker Serviks sebenarnya dapat dideteksi secara dini, jauh sebelum gejala awal muncul.


Apakah sulit untuk mendeteksinya? Tidak sulit sama sekali, hanya dengan melakukan pemeriksaan skrining Pap Smear atau minimal dengan IVA Test.


Mengapa masih banyak kasus Kanker Serviks? Selain karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit ini, juga karena kesadaran untuk melakukan skrining dengan Pap Smear atau tes IVA masih rendah.


Dalam praktek, seringkali saya bertanya kepada pasien, "Sudah pernah melakukan Pap Smear?" dan mendapat jawaban, "Apa itu, dok?" Atau ada yang sudah mengetahui tentang Kanker Serviks dan Pap Smear, namun enggan untuk diperiksa. "Ibu sudah pernah Pap Smear tahun ini?" "Belum, nanti saja."


Inilah realitas di lapangan. Sulitnya melakukan edukasi kepada pasien. Bahkan yang sudah bergejala seringkali menolak untuk melakukan Pap Smear. Kesadaran baru muncul setelah ada keluarga atau teman yang meninggal karena Kanker Serviks. Namun, kesadaran itu seringkali menghilang seiring berjalannya waktu. Padahal, Pap Smear atau tes IVA seharusnya dilakukan setiap tahun dan biayanya tidak terlalu mahal.


Tulisan ini bukanlah yang pertama kali saya bahas tentang Kanker Serviks dan skriningnya. Namun, karena masih banyaknya kasus baru Kanker Serviks di praktek, saya yakin hal yang sama juga dialami oleh teman sejawat lainnya. Oleh karena itu, saya ingin mengingatkan kembali pentingnya melakukan skrining, terutama bagi kaum ibu.


Semoga pesan ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi kaum ibu, untuk melakukan skrining.


Semoga tidak ada lagi berita duka dari keluarga atau teman yang meninggal karena Kanker Serviks.


Semoga informasi ini bermanfaat. (dr. Badi)

Post a Comment

أحدث أقدم