NU Bontang

Islam adalah Agama yang Memanusiakan Manusia


Oleh
Ahmad Fathoni

Islam hadir di bumi dengan membawa penekanan pada prinsip tauhid sebagai pegangan utama hidup. Ia menjadi tonggak dari keseluruhan sikap manusia, khususnya umat Islam, dalam menjalani tidak hanya ibadah tapi juga muamalah (hubungan sosial). Tentang muamalah, tauhid mengajarkan pengesaan mutlak kepada Allah dan pengakuan bahwa hanya Allah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna. Dari sini kita temukan kaitan yang sangat dekat antara prinsip ketuhanan dan kemanusiaan. Sebab, tauhid secara tidak langsung meniscayakan adanya kesetaraan bagi manusia karena derajat dan kelas paling tinggi hanya milik Allah. Pembedaan derajat dan kelas pada tataran manusia bersifat semu di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Karena itu, tidak ada satu pun yang berhak mengklaim diri memiliki derajat lebih mulia hanya karena berasal dari ras atau asal-usul primordial tertentu. Klaim semacam itu pernah dilakukan iblis pada awal penciptaan manusia, dan akhirnya iblis terhempas dari surga dan menjadi makhluk terkutuk selama-lamanya. Mula-mula Allah perintahkan para malaikat, termasuk iblis, untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai tanda hormat. Perintah penghormatan itu ditaati seluruh malaikat, tapi iblis dengan penuh kesombongan membangkang dari perintah tersebut.

“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu bersujud (kepada Adam) ketika Kuperintahkan kepadaMu?’ Iblis menjawab, ‘Kami lebih baik daripada dia: Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Kauciptakan dari tanah’.” (QS al-A’raf: 12)

Manusia dan kemanusiaan menjadi perhatian yang serius dalam Islam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali mensyiarkan agama ini, kondisi negeri Arab sedang dirundung kebejatan moral dan pelecehan nilai-nilai kemanusiaan yang parah.

Perang dan pertumpahan darah lantaran fanatisme antarsuku terjadi di mana-mana. Kaum perempuan dinjak-injak martabatnya—bahkan berkembang perilaku mengubur hidup-hidup bayi perempuan karena dianggap tak berguna dan memalukan keluarga. Perjudian dan eksploitasi ekonomi terhadap kaum miskin melalui riba marak.

Dengan demikian betapa berat misi Nabi kala itu. Beliau tidak hanya hendak membersihkan paganisme atau penyembahan terhadap berhala, tapi juga menata moral masyarakat Arab yang dilanda kelangkaan rasa kemanusiaan yang akut. Tentang misi ini, Rasulullah pernah mendeklarasikan diri bahwa beliau diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak.

Perhatian Islam terhadap manusia dan kemanusiaan ini eksplisit dalam Islam. Al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat 70 menyebut, “walaqad karramnâ banî âdam (dan telah Kami muliakan anak cucu Adam/manusia). Ayat menggunakan redaksi karramnâ (Kami [Allah] mulaikan) yang berarti bahwa manusia mulia bukan saja karena ada manusia lain yang memuliakan tapi memang Allahlah yang memuliakannya.

Pesan kemanusiaan lain juga sangat jelas disampaikan Rasulullah dalam haji wada’ pada tahun ke-10 hijriah. Saat itu Rasulullah seperti memberi isyarat melalui pidato tentang tanda-tanda bahwa beliau akan meninggalkan dunia ini. Para sahabat yang peka akan tanda-tanda itu tak kuasa membendung tangis dan haji wada’ itu pun diwarnai banjir air mata dan kesan yang mendalam. Di tengah suasana haru biru tersebut, sebuah pesan substansial keluar dari lisan Rasulullah: "Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu.

Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah. Kecuali dengan taqwanya.." (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

Pidato Rasulullah tersebut pengandung pesan yang mendalam atas nilai-nilai kemanusiaan.
Beliau memulainya dengan seruan “yâ ayyuhan nâs” (wahai manusia). Rasulullah tentu tahu bahwa pada momen haji wada’ mayoritas—bahkan mungkin semuanya—yang ada di hadapan beliau adalah orang mukmin. Tapi Nabi tidak menggunakan redaksi “yâ ayyuhal ladzîna âmanû”
(wahai orang-orang beriman). Hal ini menandakan bahwa substansi ajaran yang beliau pidatokan bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia. Pidato tersebut keluar lebih dari 10 abad sebelum deklarasi Hak Asasi Mansia (HAM) oleh PBB pada 1948.

Hadits Nabi tersebut menegaskan kembali tentang prinsip tauhid, juga tentang muasal bapak yang satu (yakni Nabi Adam), baru disusul peringatan tentang prinsip kesetaraan manusia. Lagi-lagi ini meneguhkan logika yang di awal tadi disampaikan bahwa berangkat dari tauhid, pengakuan terhadap kesetaraan manusia muncul. Manusia bersumber dari satu leluhur yang dimuliakan Allah sehingga tidak boleh seorang pun membuat klaim keistimewaan bangsanya, rasnya, bentuk fisiknya, asal daerahnya, dibandingkan orang lain. Soal derajat kemuliaan, Islam memberi kriteria khusus, yaitu takwa. Artinya, segenap prestise manusia diukur oleh dan dikembalikan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini juga senada dengan seruan lain dalam Al-Qur’an:
"Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang pria dan seorang wanita dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa dan suku, agar kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Allah ialah orang yang saling bertaqwa". (Q.S. al-Hujarat:13).

Pesan lainnya dalam haji wada’ yang tak kalah pentingnya adalah imbauan Rasulullah untuk membuktikan diri sebagai mukmin dan muslim yang baik dengan menjamin hak-hak hidup dan ekonomi orang lain, dan tentu saja dengan senantiasai meningkatkan ketaatan dan manjauhi larangan-larangan Allah.

Selaras dengan hal tersebut adalah sebagaimana termaktub dalam hadits dari riwayat Imam Ahmad yang artinya: “Nabi SAW bersabda saat haji wada’, ‘Maukah kalian kuberitahu pengertian mukmin?
Mukmin adalah orang yang memastikan dirinya memberi rasa aman untuk jiwa dan harta orang lain. Sementara muslim ialah orang yang memastikan ucapan dan tindakannya tidak menyakiti orang lain.

Sedangkan mujahid adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam keta’atan kepada Allah SWT. Sedangkan orang yang berhijrah (muhajir) ialah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa.”

Semoga kita tetap menjadi manusia yang berbudi luhur, manusia yang menghormati kemanusiaan dirinya dan orang lain, dan manusia yang berserah diri kepada Allah. Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk tetap dalam jalan keridhaan-Nya.

أحدث أقدم